Wabah DBD Di Tengah Banjir Melanda

17

Musim yang cenderung ekstrim saat ini memang memberikan peubahan drastis terhadap kesehatan masyarakat. Hujan yang tak menentu serta musim kemarau di daerah-daerah tertentu, juga cuaca panas yang terik turut berpengaruh dalam kehidupan kesehatan masyarakat.

Berbagai macam penyakit dapat timbul, termasuk malaria dan chikungunya. Bila dilihat atau dicek sekilas, kedua penyakit tersebut tampak sama, karena keduanya disebabkan oleh gigitan nyamuk. Namun jenis nyamuknya berbeda.

Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang masuk dalam peredaran darah dari gigitan nyamuk, sedangkan chikungunya disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Sp. Jadi, malaria disebabkan oleh infeksi parasit, dan chikungunya oleh infeksi virus. Gejala awalnya hampir sama, yaitu penderita akan mengalami demam tinggi.

Untuk malaria, demam disertai dengan tubuh yang menggigil cukup ekstrim. Pada chikungunya, demam disertai nyeri tulang sendi yang cukup parah. Keduanya bila tidak segera ditangani akan menyebabkan kematian.

Pertama akan membahas penyakit malaria. Seperti dijelaskan sebelumnya, penyakit yang diakibatkan oleh parasit ini, memiliki gejala umum dinamakan trias malaria. Penderita akan mengalami badan yang menggigil cukup hebat.

Gejala lainnya adalah muntah-muntah, diare, sakit kepala hingga nyeri otot. Penyakit ini sangat umum terjadi di kawasan Nusa Tenggara dan Papua. Oleh karenanya bila, Anda sedang berkunjung ke kawasan tersebut, sebaiknya sedia obat-obat untuk anti malaria.Bila sudah mengalami gejala yang menunjukkan malaria, segera periksa ke dokter.

Tidak seperti demam berdarah, untuk pengecekan malaria, dapat menggunakan metode tes darah sederhana. Untuk pengobatannya, disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Pada kasus yang tidak tertangani segera, akan menimbulkan komplikasi yang cukup parah, seperti gagalnya fungsi organ, dehidrasi, anemia kronis, dan lainnya.

Kemudian pada penyakit chikungunya atau sering disebut demam berdarah (DBD), infeksi virus disebabkan oleh nyamuk aedes. Gejala memang agak mirip dengan malaria. Bedanya adalah disertai nyeri tulang sendi. Gejala lainnya adalah mual, ruam tubuh, sendi membengkak.

Segera periksakan diri ke dokter, apabila mengalami gejala tersebut. Cek darah yang biasa dilakukan adalah tes ELISA. Tes tersebut merupakan sebuah cara untuk mengecek kadar antibodi IgM dan IgG yang erat kaitannya dengan penyakit chikungunya.

Hasil akan menunjukkan kadar IgM tinggi, dan positif DBD. Untuk pengobatannya tidak ada yang khusus. Penyakit ini akan pulih secara berangsur. Pada beberapa kejadian, gejala yang ditunjukkan oleh penderita akan berkurang dalam waktu satu minggu.

Namun, untuk nyeri sendinya akan menetap cukup lama. Oleh karena itu, bila penderita telah divonis DBD, ahli medis akan memberikan obat paracetamol atau Ibuprofen. Obat tersebut akan menurunkan demam, sekaligus mengurangi rasa nyeri yang diderita.

Tindakan pencegahan yang dapat diambil adalah menghilangkan genangan air, tumpukan sampah, bila perlu gunakan losion anti nyamuk atau gunakan kelambu di sekitar tempat tidur untuk menghalau nyamuk. Saat tidur gunakan selimut yang menutupi seluruh badan.

Sebisa mungkin hindari daerah-daerah endemik penyakit tersebut. Bila sudah terlanjur dan mengalami gejala seperti tersebut di atas, segera cek ke dokter. Penyakit tersebut, jika dibiarkan akan menggagalkan fungsi organ tubuh, memberikan komplikasi cukup serius, bahkan paling parah adalah berujung kematian.

Pastikan selalu sedia obat-obatan, jika memang harus ke daerah endemik tersebut. Mencegah lebih baik, daripada kesusahan saat telah terjangkit. Selalu gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, untuk menghindari gigitan nyamuk. Kita tidak akan pernah tahu, nyamuk jenis apa yang menggigit ke kulit. Tetap selalu waspada.