Teka-Teki Buku Merah Pembawa Petaka Bagi KPK

16

Kasus Novel Baswedan hingga kini masih menjadi misteri. Penyiraman air keras yang ia alami beberapa tahun lalu masih tidak menemukan sedikit pun titik terang. Namun ada satu kejadian menarik yang ditemukan Tim Indonesialeaks.

Mereka berhasil menemukan sebuah video yang menunjukkan adanya pengkhianatan dalam tubuh KPK itu sendiri. Sebuah video yang didapatkan dari CCTV Gedung KPK, Lantai 9, Direktorat Penyidikan pada tanggal 7 April 2017 membuat banyak pihak meragukan kinerja pihak kepolisian.

Dalam video tersebut, beberapa orang penyidik dari pihak kepolisian terlihat merusak buku merah dan buku hitam. Buku merah dan buku hitam adalah barang bukti berupa laporan keuangan perusahaan CV Sumber Laut Perkasa yang dimiliki oleh pengusaha impor daging sapi, Basuki Hariman.

Video yang berdurasi 1 jam 48 menit itu menunjukkan beberapa penyidik KPK bekerja sama untuk merusak barang bukti. Terdapat dua orang penyidik yang bernama Harun dan Rolland yang terlihat merusak buku merah dengan menggunakan tipe-ex. Perusakan pertama dilakukan oleh Harun yang mana ia terlihat menunduk di bawah meja menghindari pantauan CCTV sambil membawa buku merah dan tipe-ex yang memang ia kantongi.

Tak hanya sekali, Harun terlihat kembali melakukan hal yang sama berkali-kali. Begitu pula yang dilakukan kembali oleh Rolland. Bahkan keduanya sempat terlihat sedang melepaskan label yang ada pada buku tersebut. Gelagat keduanya yang tampak sangat mencurigakan menjadi hal yang patut mendapatkan penyelidikan lebih lanjut.

Basuki Hariman adalah pengusaha impor daging sapi yang ditangkap oleh KPK karena kasus suap yang ia lakukan pada hakim konstitusi, Patrialis Akbar. Pada waktu penggeledahan, tim KPK menemukan buku merah sebagai barang bukti laporan keuangan perusahaan yang menunjukkan aliran dana yang masuk dan keluar.

KPK sendiri telah melaporkan hal ini dan mengembalikan keduanya pada kepolisian. Namun bukannya mendapat sanksi, keduanya justru mendapatkan jabatan yang mentereng. Keduanya dianggap tidak bersalah dan justru dianggap berprestasi.

Nama Tito Karnavian juga ditemukan dalam buku tersebut sehingga kuat dugaan bahwa rentetan petaka yang dialami KPK diawali dari penemuan kasus tersebut. Apalagi setelah penghapusan buku merah tersebut dilakukan, kejadian pencurian laptop salah satu penyidik KPK dan penyiraman air keras pada Novel Baswedan hingga usaha pelemahan KPK terus berlangsung.

Belum lagi hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian justru sama sekali tidak menghubungkan keterkaitan antara kasus penyiraman air keras Novel dengan kasus buku merah tersebut dalam laporan mereka pada Presiden Jokowi. Padahal ketika Novel menemui Tito pada tanggal 4 April 2017, salah satu penyidik menyebutkan keterkaitan kasus tersebut, namun justru tidak masuk dalam laporan.

Meskipun hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan adanya keterlibatan Sang Jenderal dalam kasus penyiraman air keras yang dialami oleh Novel, namun kejanggalan demi kejanggalan terus bermunculan. Kita doakan saja semoga negeri ini masih memiliki orang jujur yang berani untuk mengungkapkan kebenaran dan menegakkan keadilan.