Tahukah Kalian Hari Internasional Nol Toleransi Bagi Praktik Sunat Perempuan?

80

Bagi sebagian besar orang, mungkin cukup asing mendengar judul diatas. Yups, Hari Nol atau Zero Toleransi Bagi Praktik Sunat Perempuan memang jarang sekali terdengar ditelinga kita. Namun, secara internasional telah ditetapkan hari internasional pemberhentian praktik sunat perempuan, yaitu setiap tanggal 6 Februari.

Berdasarkan pengertian dari World Health Organization (WHO), United Nations Childern’s Fund (UNICEF), dan United Nations Population Fund (UNFPA), Sunat perempuan / khitan perempuan atau disebut juga Mutilasi genital perempuan / Female Genital Mutilation (FGM) adalah semua prosedur yang melibatkan tindakan mengubah atau melukai alat kelamin perempuan untuk alasan non-medis.

Praktik sunat perempuan ini telah diakui secara internasional sebagai pelanggaran hak asasi perempuan dan anak perempuan. Menurut lembaga UNICEF, Female Genital Mutilation/Cutting (FGM/C) atau lebih dikenal dengan ‘sunat perempuan’ merupakan sebuah bentuk pelanggaran terhadap hak anak dan perempuan.

Dimana sunat perempuan ini tidak memiliki manfaat kesehatan sama sekali terhadap perempuan. Berdasar studi kependudukan dan gender Universitas Yarsi, yang diungkap oleh Dr. Artha Budi Susila Duarsa, bahwa sunat perempuan tidak memiliki manfaatnya sama sekali, dan justru sebaliknya dapat menimbulkan bahaya sampai dengan kematian karena dilakukan di area sensitif.

Selain itu, WHO menemukan bahwa sunat perempuan merugikan anak perempuan dan perempuan dalam banyak hal. Diantaranya merusak dan menghilangkan jaringan genital wanita yang sehat dan normal, serta mengganggu fungsi alami dalam tubuh perempuan.

Meskipun begitu, hal ini cukup menuai banyak pro dan kontra. Pasalnya Female Genital Mutilation (FGM) memiliki arti yang lebih sempit jika dibandingkan dengan ‘sunat perempuan’ itu sendiri. Sunat perempuan memiliki arti dan makna yang berbeda di beberapa negara.

Kita bandingkan saja sunat perempuan di Indonesia dengan di benua Afrika, seperti halnya Ethiopia. Di Indonesia, sunat perempuan tidak memotong klitoris perempuan, melainkan hanya membersihkan bagian vagina dan membuka selaput yang ada pada klitorisnya, untuk membersihkan kotoran yang bisa menimbulkan penyakit-penyakit yang lain.

Sedangkan di negara Ethiopia, sunat perempuan diartikan dengan memotong alat kelamin atau bisa disebut Female Genital Cutting. 

Meski memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mengartikan sunat perempuan. Praktek mutilasi genital perempuan atau Female Genital Mutilation/Cutting (FGM/C) ini tetap tidak mendapat toleransi internasional. Sebagaimana ditetapkannya tanggal 6 Februari sebagai International Day of Zero Tolerance to Female Genital Mutilation).