Tagar Puisi Prabayar Dan Mirisnya Sastra di Indonesia

40

Ya, akhir-akhir ini hashtag #PuisiPrabayar bermunculan di media sosial sebagai langkah protes pernyair Indonesia atas kelakuan nakal seorang pengamat politik bernama Denny JA. Pasalnya, Denny JA mengadakan sayembara sebesar Rp. 5 juta untuk setiap – dia sebut puisi esai – yang terpilih. Bahkan, dia juga berani membayar uang muka Rp. 1 juta untuk setiap puisi yang disetujuinya.

Menggiurkan? Tentu saja. Apalagi untuk para penulis muda yang dituntut harus jadi orang kaya oleh calon mertuanya. Namun, apakah hal semacam ini benar?

Sesungguhnya, hal seperti ini wajar terjadi. Banyak penulis yang memang dipesan untuk membuat suatu karya lalu diberi imbalan uang yang bahkan harganya sangat tinggi. Misal, penulis novel dengan tema tertentu (ghostwriter), penulis biografi, penulis untuk sebuah acara besar, atau penyair sebuah antalogi. Namun, munculnya #PuisiPrabayar berbeda kasus dengan contoh di atas.

Tagar #PuisiPrabayar muncul untuk menghetikan Denny JA atas usahanya memasukkan namanya sendiri dalam kelompok Sastrawan Indonesia hanya dengan modal uang. Lucu, kan?

Pada akhir tahun 2013, secara mengejutkan nama Denny JA ada dalam daftar buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh. Padahal, beliau itu sama sekali tidak pernah ikut andil dalam bidang kesusastraan sebelumnya. Hal itu pun menjadi pro dan kontra sampai saat ini. Pasalnya, Denny JA hanya terlibat sebagai analis politik. Ya, politik! Loh kok bisa tiba-tiba jadi sastrawan berpengaruh di negeriku yang lucu ini?

Buku tersebut dirilis Tim 8 dari Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin dengan isu Denny JA menggunakan uangnya untuk bermain dengan sastra.

Lalu, Denny JA malah membuat proyek menulis lagi, puisi esai, dengan honor 5 juta. Setiap provinsi akan diambil 5 karya. Berarti, akan ada 170 penyair dari 34 provinsi dengan total estimasi biaya 850 juta. Uhmm? Rencananya dia akan membuat 34 buku, yang berarti biaya yang akan keluar sekitar 2-3 miliar, yang kabarnya dari kantong pribadi Denny JA.

Belum selesai, perihal puisi esai (genre baru) yang katanya dia cetuskan pun menuai banyak kontrovensi. Sebenarnya, apa itu puisi esai? Menurut yang bersangkutan, puisi esai adalah genre baru dimana puisi dituliskan lebih panjang -sampai berlembar-lembar bahkan puluhan, menyerupai esai- dengan mengangkat isu sosial berdasarkan kejadian nyata dan diberi catatan kaki di bawahnya.

Menurut sastrawan, genre yang seperti ini sesungguhnya sudah dikenal lama di dunia sastra, yaitu prosa liris atau prosa lirik. Dimana puisi dibuat dengan gaya seperti kita menulis prosa. Bolehkah kita lihat karya-karya Wiji Thukul yang mengangkat isu sosial, ekonomi, dan lainnya.

Karena hal ini -puisi esai, Denny JA, honor 5 juta, politik uang, dan oh ya ampun- sastrawan Indonesia terpecah belah. Ada yang setuju dengan Denny JA namun lebih banyak yang mengatakan jika Anda sama sekali tidak bisa membeli sastra dengan uang.