Super Qurban Rumah Zakat, Daging Kurban Bertahan Hingga 3 tahun

14

Jelang perayaan Hari Raya Idul Adha, Rumah Zakat (RZ) Samarinda mengajak masyarakat dan segenap umat Muslim untuk menunaikan ibadah berkurban. Melalui program Super Qurban, RZ ingin memastikan bahwa penyaluran daging kurban bisa bertahan lebih lama dan tepat sasaran.

Branch Manager (BM) RZ Samarinda Mega Folandiana menjelaskan, program Super Qurban merupakan inovasi dalam mengolah daging kurban, dengan memprosesnya menjadi kornet dan rendang yang disimpan dalam kaleng kedap udara. “Dengan pengolahan higienis dan sesuai syariah (aturan dalam Agama Islam). Daging kurban yang biasanya akan habis kurang dari 1 pekan, dengan Super Qurban bisa bertahan hingga 3 tahun,” ujarnya ditemui di Kantor RZ Samarinda di kawasan Vorvoo Kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) Kamis (11/07/2019) siang.

Dengan masa konsumsi yang lebih lama, lanjut Mega maka penyaluran daging kurban bisa lebih bermanfaat. Karena daging kurban tidak hanya bisa disalurkan kepada mereka yang berada di dekat dengan lokasi penyembelihan hewan, namun juga bisa disalurkan pada mereka yang berada jauh dari tempat pemotongan dan menjadi sumber protein yang bergizi dan praktis.

“Khususnya saat terjadi bencana. Yang terbaru kamu salurkan kornet ke korban bencana banjir Kota Samarinda. Sepanjang 2018 dan pertengahan tahun 2019, Rumah Zakat Samarinda telah menyalurkan kurang lebih 2.182 kaleng super qurban kepada masyarakat yang membutuhkan terutamanya untuk masyarakat yang menjadi korban bencana baik itu gempa, kebakaran dan juga banjir,” paparnya.

Secara nasional, jaringan Rumah Zakat juga membuka kesempatan masyarakat untuk bisa mengikuti program Super Qurban. Dengan membeli hewan kurban Kambing seharga Rp2,4 juta per ekor dan Sapi seharga Rp17,2 juta nantinya, ibadah kurban anda akan difasilitasi oleh Rumah Zakat dengan program Super Qurban.

“Kenapa harganya (hewan kurban) lebih murah, karena Rumah Zakat punya peternakan sendiri. Selain itu, sejak tahun 2000-an program Super Qurban sudah bergulir. Hingga dianugerahi Rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) sebagai yang pertama melakukan pengolahan daging kurban,” pungkasnya.