Sudut Pandang Dosa Zina Dalam Hindu dan Agama Lainnya

48

Semua agama sepertinya sepakat bahwa zina adalah salah satu dosa besar. Namun, sebenarnya apa itu zina? Bagaimana agama-agama besar di Indonesia memandang zina, terutama agama Hindu? Mari kita coba kupas secara singkat dalam artikel ini.

Menurut Kamus Bebas Bahasa Indonesia (KBBI), definisi zina adalah 1. perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan (perkawinan); fornikasi; 2. perbuatan bersanggama seorang laki-laki yang terikat perkawinan dengan seorang perempuan yang bukan istrinya, atau seorang perempuan yang terikan perkawinan dengan laki-laki yang bukan suaminya.

Lantas bagaimana dengan Hindu dalam memandang perzinaan? Di dalam hukum Hindu, zina memiliki kata yang sepadan, yakni paradara (istri orang lain). Paradara sendiri berarti perbuatan yang kurang senonoh terhadap istri orang lain. Pada zaman Kerajaan Majapahit, terdapat sebuah undang-undang yang melarang bagi lelaki/pria berbicara di tempat yang sepi dengan wanita yang telah memiliki suami. Perbuatan tersebut disebut sebagai ‘Stri Sanggrahana’ yang artinya menjamah istri orang lain.

Di dalam kitab mereka, seperti Manawadharmasastra, Sarasamuscaya, dan Parasaradharmasastra, menyebutkan bahwa hubungan seks adalah hal yang suci yang hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami-istri sah. Contoh-contoh perbuatan zina pun dijelaskan dalam Kitab Suci Smerti “Manawa Dharmacastra” VIII 357 dan 358:

“Memberi pemberian kepada seorang wanita, bergurau dengannya, memegang pakaiannya dan hiasannya, duduk di tempat tidur dengannya, semua perbuatan itu dianggap perbuatan zina”, “Bila seseorang menyentuh wanita di bagian yang tidak harus disentuh atau membiarkan seseorang menyentuhnya bagian itu, semua perbuatan itu dinyatakan sebagai perbuatan berzina.”

Maka hukuman perbuatan zina pun diperjelas dalam kitab “Bhagawata Purana” yang berbunyi:

“Lelaki atau perempuan yang melakukan hubungan kelamin yang tidak sah dengan lawan jenisnya, setelah mati dihukum oleh para pembantu Dewa Yama di neraka Taptasurmi. Di sana para lelaki atau perempuan dicambuk dengan cemeti, yang laki-laki dipaksa memeluk bentuk tubuh perempuan terbentuk dari besi panas membara, dan yang perempuan dipaksa memeluk bentuk serupa orang laki-laki. Begitulah hukuman untuk hubungan kelamin yang tidak sah.”

Zina menurut agama lain

Dalam Buddha, pelarangan zina termaktub dalam Pancasila Buddhis, sila ke-3 yang isinya: “Kāmesumicchācāra veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi.” Artinya adalah “aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila.”

Selanjutnya, Islam memandang perilaku zina menjadi dua, yaitu pezina muhsan dan ghairu muhsan. Pezina muhsan adalah pezina yang telah memiliki pasangan sah/menikah, sedangkan pezina ghairu muhsan adalah pezina yang belum menikah dan tidak memiliki pasangan sah. Bagi umat Islam, mereka percaya bahwa zina adalah salah satu dosa besar yang tertulis di dalam Alquran: “… dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” — Al-Isra’ 17:32.

Lalu, di dalam Kristen, Yesus Kritus menyebutkan hukum perzinaan secara terang-terangan. Hukum tersebut dicatat dalam Injil Matius, Injul Markus, dan Injil Lukas. Salah satu contoh dalam pelarangan perzinaan dalam Injil Matius: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzina.” — Alkitab, Matius 5:27.

Jadi, begitulah agama-agama di Indonesia memandang perzinaan, tak terkecuali Hindu. Semua sepakat bahwa zina adalah salah satu dosa terbesar yang harus dihindari.