Situasi Aman Kembali, Rupiah Menguat ke Angka 14.461, Terbaik di Asia

12

Gejolak politik sebenarnya sudah terasa sejak pelaksanaan pemilu 2019 lalu namun puncaknya terjadi setelah KPU mengumumkan hasil final perhitungan suara di seluruh Indonesia. Setelah pengumuman hasil rekapitulasi suara pada tanggal 21 Mei 2019 oleh KPU, gejolak politik pun terjadi dan situasi memanas.

Berbagai kantor dan usaha yang terletak di jalan protokol di Jakarta terutama di dekat kantor Bawaslu terpaksa memberhentikan sementara waktu kegiatan mereka. Hal ini berdampak pada nilai tukar rupiah yang melemah. Menjelang pengumuman rekapitulasi rupiah mengalami depresiasi di pasar perdagangan, salah satu faktor yang membuat rupiah sulit melangkah ialah gangguan keamanan pasca pengumuman hasil pemilihan presiden.

Namun, pemerintah berhasil untuk menyelesaikan gejolak politik tersebut. Massa tetap melakukan aksinya pada tanggal 22 Mei 2019, meskipun banyak perusuh yang melakukan pelemparan batu dan pembakaran asrama brimob, namun secara keseluruhan kondisi saat ini sudah kembali aman dan normal kembali. Meskipun, masih terdapat beberapa titik di ibu kota yang masih dalam pembersihan pasca aksi 22 Mei lalu.

Kondisi yang kembali stabil memberikan dampak positif kepada nilai tukar rupiah. Satu hari pasca peristiwa tersebut (Kamis 23/5/2019) , dollar kembali menguat 0.1% dari hari rabu. Dollar menguat ke angka 14.505. Investor kembali menyerbu pasar modal Indonesia. IHSG mengalami penguatan sebesar 0.83%, hal ini merupakan hal yang positif karena indeks saham utama negara Asia lainnya justru mengalami nilai negarif. Indeks saham utama Asia yang merah ialah Shanghai Composite (-1.07%) , Kospi (-0.56%) dan Hang Seng (-1.4%).

Selain itu, mata uang negara Asia Tenggara lainnya seperti Ringgit, Baht dan Peso juga mengalami pelemahan terhadap nilai dollar. Saat ini pada hari Jumat (24/5/2019), rupiah kembali mengalami penguatan terhadap dollar amerika. Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 14.461 per dollar pada perdagangan spot. Menurut analisi Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta sebenarnya investor sudah mulai berekasi positif terhadap Indonesia.

Menurut Nafan, penanganan gejolak politik di Indonesia yang baik membuat pasar merespon postif, meskipun 3 hari sebelumnya faktor politik ini yang membuat rupiah melemah. Secara analisis teknikal, rupiah mengalami pola yang bervariasi. Penguatan rupiah bisa saja terus terjadi meskipun rupiah sendiri berada di posisi overbought.

Sementara menurut Ariston Tjendra selaku kepala riset Monex Investindo, pasar akan bersifat wait and see setelah Ibu Kota Jakarta mengalami keributan selama dua hari kemarin. Menurutnya pasar akan mulai tenang apabila pasangan yang mengalami kekalahan bisa legowo dengan hasil resmi KPU sehingga membuat para pendukungnya tidak melakukan hal hal yang negatif.

Selain faktor kondisi politik di Indonesia, hambatan penguatan rupiah terjadi karena adanya sentimen yang kurang positif dari Amerika Serikat. Bank di AS memberikan sinyal akan lebih sabar untuk mengubah suku bunga acuad Fed Rate. Hal ini disampaikan dalam notulensi rapat yang disampaikan oleh Komite Pasar Terbuka Federal.

Kabar baik untuk rupiah tidak hanya berhenti sampai penguatan rupiah terhadap dollar. Namun, rupiah saat ini menjadi mata uang terbaik di Asia karena mata uang negara Asia lainnya mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika. Rupiah justru mengalami nilai apresasi tertinggi di Asia.