Setelah Tiongkok, Jepang Klaim SmartPhone Penyebab Rusaknya Penglihatan Anak

21

Keberadaan smart phone menjadi candu untuk masyarakat hampir 80 persen setap harinya dihabiskan dengan smart phone. Fungsi smart phone yang semakin canggih dan memudahkan kita dalam melakukan hal apapun termasuk pekerjaan menyebabkan masyarakat tidak bisa lepas dari teknologi canggih bernama smart phone.

Maraknya penggunaan smartphone dikalangan masyarakat semakin meluas hingga kalangan anak-anak. Banyak anak-anak yang menghabiskan watunya bermain dengan smart phone, hal tersebut jika dibiarkan dapat berpengaruh terhadap kesehatan mata dan perilaku sang anak.

Pada awal tahun 2018 lalu negara Tiongkok sebagai pasar game mobile terbesar di Dunia mengambil tindakan tegas mengenai anak-anak yang terlalu lama bermain dengan smart phone-nya. Sebagai tindakan untuk melindungi penglihatan anak-anak dari bahayanya cahaya biru yang dipancarkan oleh smart phone.

Cahaya biru yang berada di smart phone tersebut dapat membuat mata cepat lelah dan menyebabkan ketegangan, karena itu kecenderungan anak menatap layar smart phone dengan waktu yang lama dapat berpotensi lebih besar penyebab rusaknya penglihatan pada anak.

Berkaitan dengan masalah tersebut pemerintah Tiongkok akan membatasi waktu bermain game mobille dan mengatur jumlah game yang dirilis. Tindakan dari pemerintah Tiongkok tersebut berdasarkan data dari WHO negara Tiongkok merupakan negara dengan tingkat rabun dekat pada anak tertinggi di Dunia.

Tidak hanya Tiongkok baru-baru ini pemerintah Jepang juga mengklaim bahwa salah satu penyebab memburuknya penglihatan siswa-siswi di negaranya adalah smart phone. Dilansir dari Engadget bahwasannya Kemeneterian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang melakukan survei terkini untuk mengetahui jumlah siswa dengan penglihatan yang buruk.

Mereka menemukan jumlah penglihatan siswa dibawah skor standar 1.0 (ekuivalen 20/20) hasil survei tersebut berada pada titik tertinggi sepanjang masa, yaitu 25,3 persen. Sedangkan hasil survei dari siswa menengah kondisinya lebih buruk lagi yakni 67 persen dan siswa sekolah dasar tidak memnuhi standar berjumlah 34 persen.

Selain memicu rusaknya penglihtan smart phone juga menjadi salah satu pemicu perubahan cara berjalan manusia. Perubahan cara berjalan tersebut saat ini banyak ditemukan dibanyak tempat, orang-orang akan berjalan dengan sedikit membungkuk karena matanya fokus terhadap layar smart phone bahkan ketika menyebrang pun masih ada orang yang berjalan dengan membungkuk.

Jika hal tersebut terjadi bukan hanya penglihatan yang rusak tapi dapat membahayakan diri sendiri pula. Jika  tidak ingin hal yang sama terjadi pada diri kamu, sebaiknya kurangi penggunaan smart phone terutama di tempat-tempat yang dapat membahayakan diri sendiri.