Sering Tidak Disukai Keberadaannya, Lalat Jadi Inovasi Baru Yang Menguntungkan

24
lalat

Musibah banjir yang menimpa Warga Jabodetabek di awal tahun 2020 masih membekas. Banyak kerugian dan kesedihan yang dihasilkan karena Banjir. Semua terjadi memang sudah dikehendaki oleh Tuhan.

Namun sebagai manusia kita juga perlu intropeksi dari musibah yang sudah terjadi. Pasti ada campur tangan kita di dalamnya. Banyak yang tidak sadar setelah musibah banjir kita diperlihatkan dengan tumpukan sampah yang berada di selokan.

Sampah seakan masih menjadi salah satu faktor penyebab terbesar bencana banjir masih menimpa kita. Ada solusi yang bisa dilakukan oleh kita sebagai produsen sampah untuk bisa meminimalisir sampah menggunakan teknologi tepat guna dengan bantuan Lalat hitam.

Apa yang terlintas di pikiran ketika mendengar kata “lalat”? Pasti kita membayangkan sesuatu yang menjijikan seperti lingkungan kotor, timbunan sampah, genangan air kotor. Banyak yang tidak suka keberadaannya karena lalat memungkinkan membawa penyakit. Tapi tahukah ternyata lalat bsf atau “Black Soldier Fly” bisa menguntungkan bagi keberlangsungan kehidupan manusia?

Lalat Black Soldier Fly sengaja diternak dan dikembangbiakkan ditempat yang disebut nursery untuk menghasilkan magot. Magot dari lalat bsf inilah yang nantinya difungsikan untuk mengelola timbunan sampah organik hingga jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang.

inovasi lalat

Telur telur hasil produksi lalat nanti, kemudian akan dipisahkan ke tempat yang berbeda sampai proses penetasan terjadi. Setelah telur menetas dan berusia 5-7 hari, dipindahkan ke tumpukan sampah organik. Memasuki usia 10 hari larva sudah siap panen dan bekerja untuk mengurai sampah.

Metode BSF sudah diterapkan di beberapa daerah, terbukti efektif dalam pengurangan sampah di TPA dan tidak mencemari lingkungan. Diharapkan inovasi baru ramah lingkungan ini bisa diterapkan di TPA seluruh Indonesia.

Mari sama-sama mewujudkan Indonesia bebas sampah untuk masyarakat bebas penyakit! Karena kalau bukan mulai dari kita, lalu siapa?