Sejarah Pemakaian Patung,Gambar, dan Simbol di Gereja Katolik

39

Pemakaian simbol seperti gambar, patung,logo dan lain lain di Gereja Katolik dalam ibadahnya sering menimbulkan kesalahpahaman di kalangan orang awam.

Gambaran Singkat

Manusia adalah makhluk yang memerlukan lambang, simbol, atau bentuk apapun untuk mengenang sesuatu. Salah satu contoh memasang atau menyimpan foto untuk mengenang momen penting atau orang yang penting. Foto itu hanyalah gambar yang fungsinya untuk mempermudah ingatan akan sesuatu.

Gereja Katolik memasang gambar atau patung Yesus, Bunda Maria ataupun orang kudus lainnya supaya lebih mudah mengigat pada pribadi yang bentuknya digambarkan atau dipatungkan tersebut. Selain itu hanya dengan memandangnya orang -orang bisa lebih mudah mengarahkan hatinya ketika sedang beribadah, sehingga kita bisa lebih fokus untuk beribadah.

Hal ini sama saja pada saat kita menyimpan foto orang terkasih, menghormati  foto-foto pahlawan, mengenang monumen-monumen bersejarah, atau bahkan saat kita melakukan pose hormat kepada bendera negara pada saat upacara bendera.

Untuk mengerti sejarah panjang penggunaan patung di Gereja Katolik, berikut penjelasan sejarah dan beberapa simbol yang pernah digunakan sampai sekarang.

Sejarah Awal

Umat Katolik untuk menggunakan patung dan gambar memperoleh akarnya dari sejarah kekristenan awal. Sudah sejak awal kekristenan usaha untuk membuat kenangan, peristiwa-peristiwa tentang nubuatan dan mujizat dilakukan.

Gambar pertama yang melambangkan pengalaman perjumpaan umat dengan Kristus adalah logo berbentuk ikan dan ada tulisan “IXOYE” di bagian tengahnya. Dari gambar tersebut umat Kristen ingin mengenang momen keselamatan yang dibawa oleh Sang Juru Selamat, yaitu Yesus Kristus.

Dari symbol ini mulai muncullah gambar dan symbol lain yang bisa kita temukan di gereja-gereja. Semuanya symbol dan gambar ini ingin mengungkapkan peristiwa pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan tafsiran iman Kristen. Dari sinilah mulai muncul gambar atau patung dari Yesus Kristus, Bunda Maria, dan orang kudus lainnya.

Salib Tanpa Corpus

Dalam perkembangan symbol dalam gereja, muncullah symbol salib Kristus sebagai tanda dari karya penciptaan, keselamatan umat manusia dari Kristus, penderitaan dan pengorbanan Kristus dalam kematian, dan sekaligus kebangkitan Kristus dari kematian.

Tapi di Gereja Timur (Gereja Byzantin, Gereja Antiokhia, Gereja Etiophia, Gereja Koptik) salib dibuat tanpa corpus, atau tanpa Tubuh Kistus yang disalib. Salib ini dibuat sebagai tanda bahwa tubuh Kristus sudah tidak ada lagi. Dia sudah bangkit dari kematian dan naik ke sorga. Simbol salib ini juga menunjukkan kematian maupun kebangkitan Yesus.

Salib Dengan Corpus

Di kemudian hari, muncul juga simbol salib dengan corpus, atau salib dengan tubuh Kristus yang tersalib diatasnya. Salib ini mengungkapkan bahwa penderitaan dan kematian yang dialamai Yesus sungguh terjadi. Simbol ini ingin menunjukkan keutuhan  antara salib yang memiliki makna penderitaan dan kematian dan tubuh Kristus yang melambangkan kebangkitan

Budaya Romawi

Upaya untuk mengenang kejadian-kajadian penting dalam bentuk patung mulai muncul pada masa kekuasaan Romawi. Kebiasaan ini sedikit banyak dipengaruhi olleh budaya bangsa Romawi yang sangat kental dengan ekspresi dalam bentuk patung.

Sejak saat itu lah mulai dibentuk patung-patung yang menyerupai Yesus Kristus, Bunda Maria dan juga orang-orang kudus lainnya. Budaya ini sangat berkembang di Gereja Timur. Tapi kemudian pada abad ke-8 mulailah muncul gejala-gejala orang tidak lagi menyembah Yesus tapi mulai menyembeh patung yang telah dibuat manusia itu sendiri.

Akhirnya pada tahun 726 Kaisar Leo, memerintahkan penghancuran semua patung-patung dan gambar-gambar yang ada di dalam gereja-gereja pada masa itu.

Sejarah panjang masih berlanjut, mulai muncul perdebatan tentang patung di dalam sebuah gereja. Banyak yang menentang kehadiran patung yang dianggap berhala, dan ada juga yang mengutuk tindakan penghancuran patung orang-orang suci di dalam gereja tersebut.

Sampai akhirnya setelah perjuangan panjang dan pengorbanan dari banyak martir kudus, Gereja Katolik dapat kembali menggunakan patung dan gambar orang-orang kudus pada tahun 780 dibawah kekuasaan Ratu Irene.