Sejarah Hari Raya Galungan di Agama Hindu

145
Sumber gambar: oleholehkhasbali.com

Galungan selalu identik dengan penempatan penjor atau hiasan janur. Sehingga jalan –jalan di Bali Nampak sangat alami. Bali pulau yang sangat indah tapi juga religius. Umat hindu di Bali setiap tahun merayakan hari raya galungan. Galungan ini bertujuan untuk menyelaraskan alam dan sebagai hari perayaan kemenangan dimana kebaikan menang melawan kejahatan. Maka selalu diadakan persembahan pada Sang Hyang Widhi dan dewa bathara.

Galungan diambil dari bahasa Jawa kuno yang berarti kemenangan. Pada penanggalan jawa kuno galungan jatuh pada wuku kesebelas. Galungan pertama kali diaadakan pada tahun 882 Masehi. Hal itu terdapat pada kitab lontar yang berbunyi: “Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.” Artinya galungan pertama kali dirayakan pada haru rabu kliwon, tanggal 15 tahun 804 Saka atau 882 Masehi.

Secar folklore, cerita galungan berawal dari masa lalu ketika dewa indra memburu seorang raksasa jahat yang bernama mayadenawa. Banyak pasukan kahyangan yang telah ikut serta untuk membunuh mayadenawa. Sehingga pasukan mayadenawa kalah. Suatau hari mayadenawa bersiasat untuk meracun pasukan mayadenawa melalui sungai. Hal ini menyebabkan banyak pasukan kahyangan teracun.

Dewa indra bertindak untuk mengobati para pasukan kahyangan. Dewa indra membuat sumber mata air yang dapat mengobati racun pada tubuh pasukan kahyangan. Para pasukan kahyangan akhirnya meminum sumber mata air tersebut dan sembuh dari segala jenis racun. Maka Mayadenawa melarikan diri. Hal ini diketahui dewa indra. Berkali – kali mayadenawa merubah wujud, tapi selalu ketahuan dewa indra dan dewa indra berhasil membunuh mayadenawa. Peristiwa ini menginspirasi untuk membuat acara galungan sebagai perayaan atas menangnya kebaikan diatas kejahatan.

Lontar sendiri bisa disebut ibarat pustagalungan dan kuningan biasanya dirayakan dengan jarak 10 hari berdasarkan kalender Bali. Galungan pada hari Rabu wuku Dungulan dan kuningan pada setiap hari sabtu pada wuku kuningan. Galungan dimaksudkan agar umat hindu mampu membedakan dorongan hidup yang bersifat adharma/keburukan dan dharma/kebaikan di dalam diri manusia sendiri. Kebahagiaan sejati diraih saat manusia mampu menguasai kebenaran itu sendiri.

Dilihat dari segi ritualistik, upacara galungan bertujuan untuk mengingatkan kembali agar selalu melawan dharma dan menegakkan dharma. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan galungan berfungsi untuk menyatukan kembali sisi rohani umat Hindu untuk mendapatkan keseimbangan dan kesempurnaan hidup.

Bersatunya rohani dan pikiran terang akan menuntun manusia menuju dharma dan menjauhi adharma. Sedangkan segala pikiran buruk akan sirna. Perayaan galungan sangat menarik dan dapat menjadi agenda pariwisata di Bali, sehingga turis tidak hanya dapat menikmati pemandangan alam, kesenian dan sosial di bali. tapi juga melihat keindahan budaya di bali