Seberapa Besar Keimanan Kita pada Allah SWT?

55
HR-Muslim

Adakah yang pernah membayangkan bahwa ketika anda lahir, orang tua anda bukanlah seorang muslim? Adakah yang pernah membayangkan bahwa ketika anda lahir, keluarga anda adalah seorang atheis? Adakah yang pernah membayangkan bahwa ketika anda lahir, anda berada di dalam keluarga yang yang sangat jauh dari ajaran agama islam?

Tidak ada unsur untuk menjelekkan sesama dan tidak ada unsur pemaksaan. Karena seperti firman Allah dalam surat Al Kafirun:

Lakum diinukum waliya diin

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”

Saya hanya ingin mengajak berpikir bersama khususnya umat islam. Karena jujur, saya pernah berpikir, bagaimana seandainya jika saya terlahir di dalam keluarga non muslim. Apakah saat ini saya akan menjadi muslim? Apa saat ini saya akan mengenal Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW? Saya tidak menjamin itu.

Oleh karena itu, saya bersyukur, telah lahir di dalam keluarga muslim meskipun orang tua saya bukan ustadz atau ustadzah. Saya bersyukur, telah menjadi seorang muslim tanpa harus mencari jati diri saya, tanpa harus mencari Tuhan untuk benar-benar yakin bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Intinya, saya tidak perlu melewati proses untuk memeluk islam. Andai saya ketika lahir memiliki keluarga non muslim, belum tentu juga saya melewati proses pencarian jati diri untuk menjadi muslim. Karena, tidak semua non muslim juga menjadi mualaf bukan? Pernahkah anda berpikir seperti itu?

Saudariku, islam adalah anugerah terindah dalam hidup kita. Beruntunglah kita telah memeluk islam sejak lahir. Keimanan begitu manis hingga tak ternilai harganya. Lalu, ketika kita telah diberi anugerah terindah yang tidak semua orang diberi sejak lahir, apa yang sudah kita lakukan untuk bersyukur kepada Allah SWT? Sudahkah kita menjauhi laranganNya dan menjalankan perintahNya? Atau bahkan kita malah menggampangkanNya? Allah itu Maha Pengampun. Selama nyawa belum di tenggorokan, ampunanNya sangat terbuka luas untuk hambaNya. Tapi seberapa sering kita bertaubat padaNya?

Islam sungguh mulia dengan segala peraturanNya yang begitu sempurna. Peraturan itu berasal langsung dari pencipta alam semesta dan isinya. Ya, Allah yang menciptakan kita juga. Dosa bagi kita durhaka kepada ibu yang telah melahirkan kita, apalagi kita durhaka dengan pencipta kita?

Sebagai manusia biasa, kita pasti pernah berada di posisi iman yang lemah dan khilaf dalam perbuatan maupun ucapan. Lalu apakah Allah langsung menghukum kita? Apakah Allah tidak memberi rezeki kepada kita ketika sedang lalai? Tidak. Allah masih membuka pintu ampunanNya dan tetap memberi kita rezeki serta kebahagiaan. Itulah Allah.

Lalu apa inti dari tulisan ini? Seperti topik awal, saya hanya ingin kita berpikir bersama. Khususnya menjadi sarana muhasabah bagi diri saya sendiri. Ketika kita telah memeluk islam yang tidak semua orang meyakininya, apakah kita sudah bersyukur? Apakah kita sudah merasa aman dengan pahala yang kita kumpulkan? Padahal kita tidak pernah tahu amalan mana saja yang telah Allah terima hingga menjadi pahala. Apakah kita benar-benar takut balasan Allah di neraka atau sekedar menganggap neraka cerita buruk yang tidak perlu dibahas karena membuat orang takut?

Sementara perbuatan kita seakan-akan menggampangkan neraka yang masih lama kita alami. Apakah kita benar-benar menginginkan surga? Sedang perbuatan kita sangat jauh dari syarat penghuni surga. Apakah kita benar-benar beriman pada Allah? Sementara kita ragu dengan syariatnya yang bisa menjadi solusi sepanjang zaman. Bukankah beriman itu artinya percaya? Kalau percaya, kenapa masih ragu?