Rusia Ragukan Kemampuan Rudal Patriot Buatan AS untuk Lindungi Saudi

16

Rusia Ragukan Kemampuan Rudal Patriot Buatan AS untuk Lindungi Saudi

Setelah kejadian Sabtu lalu, dimana terjadi serangan drone di kilang minyak Arab Saudi, militer Rusia merasa sangat ragu dengan sistem pertahanan amerika serikat dengan rudal patriots dan Aegis yang telah gagal melindungi mnyak kilang tersebut.

Pejabat tinggi militer dari Rusia mengatakan terjadinya kegagalan untuk melindungi kilang minyak tersebut tidak sesuai dengan mengiklankan sistem rudal pertahanan yang di ciptakan oleh amerika serikat.

Menurutnya, Arab Saudi telah mengambil sistem pertahanan udara yang cukup kuat di kawasan Timur Tengah dengan menggunakan persenjataan buatan Amerika Serikatyang juga menggunakan radar berskala penuh. Namun, dirinya mempertanyakan efesiensi senjata pertahanan buatan Amerika Serikat tersebut.

Sumber militer tersebut mengatakan bahwa saat ini ada 88 peluncur sistem rudal patriot, 52 diantaranya adalah versi terbaru PAC 3, yang melindungi perbatasan di sebelah utara Arab Saudi. Ditambah lagi, Saudi juga didukung oleh tiga sistem rudal penghancur berpemandu dan juga 100 rudal SM-2.

Dirinya pun mempertanyakan efesiensi sistem rudal pertahanan buatan Amerika Serikat tersebut ketika dilibatkan di kejadian lapangan. Dirinya pun mengatakan bahwa sistem rudal pertahanan udara patriot  dan Aegis tidak cocok dengan apa yang diiklankan, hal tersebut tidak efisien terhadap target udara ukuran kecil dan rudal jelajah.

Menrutnya, senjata pertahanan tersebut tidak dapat mengusir senjata lawan dalam jumlah besar dalam bentuk serangan udara dalam pertempuran nyata. Komentar seperti itu muncul setelah media – media internasional berusaha mencari tahu mengapa militer kerajaan Arab Saudi  tidak bisa menghentikan serangan di kilang minyaknya yaitu di Abqaiq dan Khurais.

Michael Richard Pompeo, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, juga berusaha untuk mencari alasan terkait kegagalan sistem rudal patriot untuk melindungi kilang minyak Arab Saudi.  Pompeo pun mengatakan bahwa sistem pertahanan udara di seluruh dunia memiliki keberhasilan yang beragam.

Pompeo pun menambahkan beberapa sistem pertahanan rudal yang terbaik di dunia pun tidak selalu menunjukkan hasil yang sesuai. Pihaknya pun bekerja agar infrastruktur dan sumber daya ada pada tempatnya, sehingga serangan bisa diminimalisir dampaknya bahkan dicegah. kementerian Pertahanan Arab Saudi menyimpulkan bahwa serangan di kilang minyaknya dilakukan menggunakan 25 drone atu pesawat nirawak dan rudal jelajah.

Kolonel Turki al- Malki, juru bicara kementerian pertahanan Arab Saudi, mengatakan bahwa serangan tersebut tidak berasal dari Yaman, meskipun ada indikasi Iran membuatnya nampak bahwa serangan tersebut dari Yaman. Dirinya menambahkan bahwa drone yang digunakan dalam serangan itu di luar jangkauan drone yangdigunakan oleh kelompok Houthi di Yaman.

Rivalitas Arab Saudi dan Iran memang sangat terlihat dimana keduanya ada kepentingan di kawasan regional di Timur Tengah. Setelah sebelumnya, Iran juga telah menangkap kapal tanker milik Ingris di selat Hormuz yang juga sempat mendapat protes dari Inggris atas penangkapan kapal tanker tersebut.

Sumber:international.sindonews.com