Rupiah Terhempas Lagi di Rp 14.460 Per Dolar AS, Akankah Rupiah Kembali Berjaya?

12

Hari ini, Jumat, 17 Mei 2019 – Pagi ini nilai rupiah dikabarkan merosot kembali senilai Rp 14.460,- per dolar AS (Amerika Serikat) di pasar perdagangan dunia. Ini berarti, rupiah akan turun 0,06 persen jika dibandingkan hari kamis kemarin (16/5) senilai Rp 14.452 per dolar AS.

Ilustrasi nilai rupiah terhempas oleh dolar AS

Memang hari ini sebagian besar mata uang di Asia mengalami penurunan terhadap dolar AS. Contohnya Yen Jepang menurun sebanyak 0,14 persen, ringgit Malaysia menurun sebanyak 0,18 persen, dolas Singapura sebesar 0,01 persen dan peso Fillipina menurun sebanyak 0,07.

Meskipun ada lumayan banyak mata uang di Asia yang menurun, tak lantas membuat mata uang lainnya mengalami penurunan serupa. Diketahui baht Thailand menguat sebesar 0,01 persen serta won Korea Selatan yang menguat sebesar 0,02 persen. Sementara itu, dolar Hongkong sama sekali tidak bergeming melawan dolar AS.

Dilansir dari situs CNN Indonesia, menurut Dirut (Direktur Utama) PT Garuda Berjangka Ibrahim menjelaskan rupiah sekarang belum terlepas dari dampak perang dagang AS dan China. Dampak ini menyebabkan pergerakan rupiah menjadi tertekan selama dua pekan ini dan memang mulai mereda setelah Presiden Donald Trump mengatahan negosiasi perang dagangnya dengan China berlangsung dengan sangat baik. Jelasnya pada wawancara hari ini Jumat (17/5/2019)

Ilustrasi melemahnya mata uang di Asia

Namun, bersamaan dengan adanya perkembangan perang dagang yang cukup baik ini, rupiah mendapatkan sedikit tekanan dalam negeri disebabkan proyeksi defisit neraca transaksi yang berjalan di Bank Indonesia.

BI memproyeksikan defisit transaksi bisa berjalan hingga 3 persen dari Produk Domestik Bruto pada tahun ini, namun kenyataannya defisit transaksi mencapai angka 2,5 persen pada empat bulan terakhir.

Menyambung dari pernyataannya tersebut, Ibrahim kembali menjelaskan bahwa bank central (BI) yang memperkirakan defisit transaksi berjalan akan sulit diberantas. Ini berpotensi defisit semakin melebar karena disebabkan meningkatnya perekonomian global yang tidak pasti hingga berdampak pada kegiatan ekspor Indonesia.    

Serangan bertubi – tubi diprediksikan akan menimpa rupiah tidak hanya dari dalam negeri namun juga adanya tekanan dari indeks dolar AS yang menguat, dampak dari perbaikan data ekonomi AS. Data pembangunan rumah di AS bulan April tercatat 1,23 juta unit rumah. Pembangunan ini diketahui meningkat dari bulan Maret sebesar 1,20 juta unit rumah.

Faktor peningkatan ekonomi AS ini berimbas pada menguatnya dolar AS dibandingkan dengan mata uang lainnya. Ini tentu akan sangat menghambat rupiah kembali berjaya karena menurut Ibrahim rupiah akan terus diperdagangkan Rp 14.420,- sampai Rp 14.470 per dolar AS.