Rahmah El Yunusiyah; Kartini dari Minangkabau

13

Rahmah El Yunusiyah merupakan pahlawan wanita yang berasal dari Sumatera Barat. Ia merupakan penggerak pendidikan bagi kaum wanita di daerahnya.

Berkat usahanya dalam berjuang memberikan pendidikan yang layak bagi kaum wanita, ia diberi gelar Syaikhah oleh Universitas al-Azhar pada tahun 1957, dan pemerintahan Indonesia memberinya tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipranada pada tanggal 13 Agustus 2013 secara anumerta.

Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah lahir di pada tanggal 26 Oktober 1900 di daerah Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat. Lahir di masa pemerintahan Hindia Belanda. Rahmah adalah pendiri Diniyyah Putri Padang Panjang. Salah satu lembaga pendidikan yang khusus bagi kaum perempuan.

Sampai saat ini, Diniyyah Puteri Padang Panjang merupakan salah satu sekolah yang cukup terkenal, popular dan sangat diminati masyarakat Sumatera Barat. Perguruan Diniyyah Puteri membuka pendidikan dari tingkat kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Inspirasi Rahmah El Yunusiyah dalam membuka Perguruan Diniyyah Puteri dilatar belakangi oleh pendidikan yang diterimanya di masa lalu.

Di masa kecilnya, Rahmah El Yunusiyah menimba pendidikan di lembaga pendidikan yang didirikan oleh kakak kandungnya, Zainuddin Labay El Yunusy. Di mana lembaga pendidikan tersebut dalam satu kelas, bercampur antara laki-laki dan perempuan. Rahmah pun mendirikan Diniyyah Puteri.

Selain sebagai guru yang mengajar di lembaga pendidikan yang ia dirikan, Rahmah El Yunusiyah juga merupakan pahlawan yang memerjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Seperti halnya RA Kartini yang berjuang mencerdaskan wanita-wanita di tanah Jawa, Rahmah El Yunusiyah juga melakukan hal yang sama.

Lahirnya Diniyyah Puteri adalah langkah konkrit yang dilakukan Hajjah Rahmah El Yunusiyah dalam upaya mencerdaskan wanita-wanita di tanah Minang. Ia juga merupakan pejuang kemeredekan dengan caranya sendiri. Cara yang dilakukan Rahmah dalam memerjuangkan kemerdekaan adalah dengan ikut andil dalam menyediakan makanan dan obat-obatan.

Ia mengerahkan murid-muridnya untuk ikut andil membantu para pejuang dengan menyediakan obat-obatan dan makanan. Rahmah juga merupakan anggota DPR dari perwakilah partai Masyumi. Namun ia jarang aktif dalam parlemen saat gerakan PRRI mulai bergerak.

Melalui PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), Rahmah ikut bergerilya dan meninggalkan perguruan Diniyyah Puteri yang dirintisnya. Ia pernah ditahan oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1949.

Pasca PRRI, Rahmah El Yunusiyah kembali ke Diniyyah Puteri dan melanjutkan untuk membangun lembaga pendidikan tersebut. Rahmah El Yunusiyah meninggal pada tanggal 26 Februari 1969 dan dikuburkan di pekuburan keluarganya.

Sehari sebelum ia meninggal, Rahmah bertemu dengan Gubernur Sumatera Barat saat itu, Harun Zain, dan berharap pemerintah dapat memerhatikan lembaga pendidikan yang ia kelola tersebut.

Hingga saat ini,  lembaga Diniyyah Puteri Padang Panjang telah tumbuh menjadi lembaga pendidikan khusus bagi perempuan dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Prof Azyumardi Azra menyebut bahwa Rahmah El Yunusiyah adalah perintis pergerakan muslimah di Indonesia.