Puasa Mutih Menurut Hindu

33

Puasa mutih adalah suatu kegiatan berpuasa tanpa makan dan minum apa pun kecuali makan nasi dan minum air putih saja. Biasanya, puasa mutih dilakukan oleh para penganut Kejawen dan praktisi supranatural dengan tujuan atau kepentingan tertentu.

Puasa sendiri diketahui memiliki efek yang sangat baik untuk tubuh dan pikiran. Bahkan dalam medis, salah satu efek terbaik ketika berpuasa adalah organ-orang pencernaan dapat beristirahat.

Sama halnya dengan agama lain, Hindu pun mengenal yang namanya puasa. Puasa berasal dari kata upawasa. Upa berarti mendekat dan wasa berarti Yang Maha Kuasa. Jika digabungkan, puasa dalam agama Hindu memiliki arti mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Dalam kitab Atharwa, puasa termasuk dalam ibadah tapa yang berunsur keimanan.

Salah satu puasa yang paling dikenal dan dilakukan adalah puasa Ekadasi. Ekadasi berasal dari kata eka dan dasi. Eka berarti satu dan dasi/dasa berarti sepuluh. Ekadasi adalah puasa yang dilaksanakan pada hari kesebelas mulai dari sehari setelah bulan purnama.

Pada hari kesebelas, umat Hindu dianjurkan melaksanakan puasa Ekadasi. Puasa Ekadasi ini, jika dilakukan secara teratur maka dapat menghilangkan dosa dan kebodohan yang melekat dalam diri manusia. Ada banyak jenis puasa Eksadasi, seperti Moksada, Utpanna, Vijaya, Kamada, Padma, dan lain sebagainya.

Puasa Ekadasi dimulai pada pukul 00.00 atau tepat tengah malam dan berakhir pada hari berikutnya setelah sembahyang pagi saat Brahma Muhurta. Jika dihitung-hitung, puasa Ekadasi rata-rata selama tiga puluh jam lebih.

Jika puasa mutih boleh makan nasi dan minum air putih, lain hal dengan puasa ekadasi. Puasa eksadasi hanya boleh makan buah-buahan dan umbi-umbian saja. Namun, hanya diperbolehkan jika orang tersebut memang tidak kuat menahan lapar atau sedang dalam kondisi tertentu. Akan tetapi, pada saat Nirjala Ekadasi, dianjurkan untuk puasa total, tidak makan ataupun minum sama sekali.

Ternyata, dalam satu bulan, seorang umat Hindu bisa sampai melaksanakan puasa yang terdiri hingga tiga hari. Karena, dalam satu bulan, terdapat dua hari puasa Ekadasi dan satu atau dua hari puasa selain ekadasi dalam rangka memperingati suatu acara.

Puasa yang dilakukan secara teratur, paling tidak dua hingga empat hari, ternyata memiliki dampak yang signifikan bagi kesehatan tubuh manusia. Sebab, sel-sel dalam tubuh manusia selalu melakukan regenerasi. Maka, dengan adanya puasa secara rutin, dapat membantu menghilangkan sel-sel yang rusak di dalam tubuh manusia.

Lalu, bagaimana menutup puasa dalam Hindu? Salah satu cara yang paling baik adalah dengan minum air pada waktu tepat saat penutupan upawasa. Karena air diyakini berfungsi sebagai jalan tengah. Setelah itu, berilah jeda sepuluh hingga lima belas menit sebelum makan. Usahakan pilihlah makanan yang lembut.