Problematika Indonesia dari Permainan Politik Hingga Rakyat yang Menanti Asa di Tengah “Asap”

46

Sungguh mengerikan hidup di zaman ini, di negara manapun, di wilayah manapun, dimana-mana mulai muncul hal-hal di luar nalar yang bahkan beberapa diantaranya mungkin tidak pernah diduga sebelumnya. Jangan tanya tentang negeri saya tercinta, Indonesia. Setiap hari harus berkabung dengan segala polemik yang kebanyakan sarat kepentingan pribadi, saling sikut untuk menyelamatkan diri sendiri. Halal haram jabatan dilibas tak tersisa oleh kerakusan.

Mungkin belum padam ban hasil bakar-bakar pengunjuk rasa di depan kantor KPK ketika saya menulis ini (20/09), sangat bersedih karena orang-orang tinggi sekolah yang telah rakyat pilih mulia terang-terangan “berkhianat”, mereka mengutak atik atik hukum sekehendaknya, entah dapat ilham dari mana, saya tidak tahu, mari didoakan saja dari jauh.

Banyak pihak yang menyayangkan hal ini terjadi pada lembaga negara dengan reputasi terbaik di Indonesia itu, jadi wajar saja jika ada yang ingin mengutak-atik apalagi terkesan “melemahkan”-nya (KPK) banyak nurani pasti tergerak untuk bertindak atau paling tidak berteriak.

Kisah berikut ini juga tidak asing lagi, seorang guru tempat mengalirnya ilmu yang mahsyur dengan sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” kini membuat saya berkaca-kaca. “Mereka hanya ingin mengingatkanmu nak”. “Mengajarkanmu budi pekerti”, “mengapa kau begitu emosi dengan hanya sedikit pemantik”, “ku doakan kau nak agar menjadi generasi penopang bangsa yang lebih baik ketimbang guru mu ini yang hanya bisa jadi guru”

Video-video sejenis yang dimaksud di atas sangat mudah dijumpai di jagat maya, miris, bahkan kebanyakan diantaranya membuat saya enggan percaya dikarenakan terlalu jauh dari nalar saya. Saya bahkan hanya berpikir bahwa mungkin sang guru sedang belajar acting bersama murid-murid kesayangannya. Tetapi tidak dapat dinafikkan, video-video itu benar adanya.  

Saya tadi katakan di awal “hal-hal di luar nalar”, untuk topik yang satu ini sepertinya kata-kata itu tepat sekali. Satu hikmah yang bisa saya ambil, kepintaran tanpa dasar keagamaan yang baik hanya akan mengarahkan pada kesesatan, Allah lebih tahu, Allah maha mengetahui.

Turut berduka untuk saudaraku yang terkena dampak Kabut Asap akibat kebakaran hutan di Pekanbaru dan dimanapun itu. Beberapa hari lalu saya menonton sebuah berita tentang anak-anak sekolah yang diliburkan dari sekolah akibat sekolah mereka yang terkena dampak asap, mereka lalu memilih untuk mengisi liburan untuk membuat masker dari kain yang sebenarnya sangat tidak efektif untuk menghalau asap, tetapi itulah yang bisa mereka lakukan untuk membunuh jenuh menanti tangan pemerintah yang sedang sibuk “bernanana” di kota.

Kurang lebih 3 tahun saya merantau di kota Makassar untuk menimba ilmu, turut berduka dengan kejadian yang terjadi baru-baru ini di kota Makassar dan Gowa. Masalah sampah memanglah masalah dunia, buangan bekas manusia yang bertahun-tahun lamanya dan dari hari kian banyak, akan di kemanakan semua nanti? Jangan-jangan hari ini mengganggu penciuman dan membawa penyakit, besok-besok membingungkan kita dimana harus membangun rumah.

Indonesia, ku doakan kau lekas sembuh. Walau bagaimanapun masih banyak harapan diluar sana yang patut kau nantikan, menopangmu di masa depan, tunggu saja, biarkan ini berlalu dulu, tetap bertahan.

Apa yang saya bisa adalah mengingatkan diri saya dan dengan tulisan ini semoga juga dapat mengingatkan orang lain, bahwa kita semua bisa berpartisipasi dalam rangka membuat “kabut” untuk Indonesia, disisi lain tentu kita juga bisa berpartisipasi mencerahkan Indonesia,  menyampaikan kisah “tongkat kayu jadi tanaman” kepada anak cucu keturunan. pilihan ada di tangan kita.

Tolong Jangan buang sampah sembarang, gunakan tas-tas besar kita untuk menampung sementara sampah sampai kita mendapati tempat sampah, padamkan listrik jika tidak diperlukan, kurangi penggunaan bahan yang tidak ramah lingkungan, dan hal-hal lain, insyaAllah jika kita mulai dari diri kita, setidaknya beban Indonesia berkurang 1 orang.