Presiden Iran Berpotensi Absen di Sidang Umum PBB Jika AS Tak Kunjung Mengeluarkan Visa

10

Hassan Rouhani, Presiden Iran, berkemungkinan tidak bisa menghadiri Sidang Umum PBB di New York pada pekan ini. Hal ini dikarenakan Amerika Serikat yang tidak kunjung mengeluarkan visa. Menurut kantor berita IRNA melaporkan bahwa Rouhani dan rombongan rencana akan menghadiri sidang umum PBB akhir pekan ini tetapi jika visa mereka belum dikeluarkan maka rencana tersebut akan dibatalkan.

Dalam rombongan tersebut tutur juga yang hadir adalah Mohammad Javad Zarif, diplomat yang menentang dan dijatuhkan sanksi oleh AS.
Menteri luar negeri AS, Mike Pompeo, menolak untuk memberi komentar tentang hal ini. Namun, sepertinya mike pompeo setuju dengan penolakan pemberian visa Iran. Dirinya pun berujar bahwa pihaknya dan dirinya tidak berbicara mengenai pemberian atau tidaknya visa. Pompeo menambahkan Jika hal itu terhubung dengan organisasi teror, dirinya tidak tahu.

Menurut Pompeo hal itu menjadi bahan berpikir apakah mereka diizinkan untuk menghadiri pertemuan dan membahas perdamaian. Sebagai tuan Rumah, AS harusnya member visa untuk para diplomat anggota PBB. Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. PBB telah melakukan kontak dengan AS dan dirinya berharap seluruh delegasi mendapatkan visa tersebut.

Guterres menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan kontak dengan tuan rumah untuk menyelesaikan visa untuk para delegasi. Tidak hadirnya Rouhani akan mengandaskan upaya perancis untuk mempertemukan antara presiden Iran dan presiden AS. Pertemuan rouhani dan Trump sengaja dilakukan untuk meredakan tensi dan sebagai upaya uni Eropa untuk menyelamatkan perjanjian nuklir.

Iran dan AS berselisih lagi sejak Mei 2015 dimana Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian nuklir dan menerapkan sanksi tambahan lagi terhadap Iran. Iran pun bertekad untuk terus melanjutkan pengayaan Uranium jika negara – negara lain yang menandatangani perjanjian tersebut tidak ada upaya untuk melawan Amerika Serikat.sejak itu, tensi kedua negara tersebut terus meningkat dengan isu pengerahan militer hingga uji coba rudal Teheran.

Baru – baru ini, Amerika serikat juga menuduh Iran dibalik serangan ke kilang minyak terbesar dunia di Arab Saudi. Trump pun memberikan tanggapan terhadap serangan drone yang ditujukan ke kilang minyak terbesar Arab Saudi tersebut sehingga membuat produksi minyak Arab Saudi berkurang setengahnya. Di lain pihak, Presiden Iran, Rouhani, membantah kalau Iran terlibat insiden serangan tersebut.

Dirinya pun mengatakan bahwa kelompok Houthi di Yaman melakukan serangan ke kilang minyak Arab Saudi tersebut sebagai bentuk peringatan. Ladang minyak yang dikelola perusahaan minyak Arab Saudi dihantam serangan drone pada Sabtu dini hari. Houthi sendiri telah berulang kali meluncurkan serangan roket, rudal dan drone mereka ke wilayah strategis Arab Saudi terutama ladang minyak Arab Saudi.

Iran sendiri adalah saingan Arab Saudi dan juga penentang Amerika Serikat. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran pun semakin meruncing di tahun ini. pada sebelumnya Iran juga dituduh AS melakukan serangan ke kapal tanker minyak di teluk pada bulan Juni dan Juli. Iran pun menolak tuduhan tersebut.