Potensi Tanaman Biofarmaka Sebagai Komoditi Ekspor Indonesia

24
tanaman biofarmaka

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, salah satunya kekayaan rempah. Keanekaragaman rempah yang dimiliki Indonesia memiliki aroma dan rasa yang khas sehingga menjadi daya tarik, salah satunya bagi negara asing. Rempah tidak hanya sebagai bahan makanan atau minuman tetapi juga dimanfaatkan sebagi obat.

Tanaman biofarmaka adalah tanaman yang bermanfaat sebagai obat-obatan yang dikonsumsi dari bagian tanaman berupa, daun, buah, dan umbi (rimpang) atau akar. Tanaman biofarmaka ini masuk dalam 10 komoditi potensial untuk diekspor keluar negeri. Berdasarkan data BPS, jahe, kunyit dan kapulaga menjadi tanaman biofarmaka paling banyak yang diekspor keluar negeri dengan volume masing-masing sebesar 23.551,9 ton, 7.591,51 ton dan 7.163,35 ton. Negara tujuan ekspor jahe terbesar adalah Bangladesh dengan volume sebesar 15.1799,22 ton. Sedangkan India menjadi negara tujuan ekspor kunyit terbesar dengan volume sebesar 6.451,47 ton.

Iklim tropis negara Indonesia menjadikannya sebagai daerah yang memiliki anekaragam rempah sekaligus menjadi tempat yang mudah untuk membudidayakannya. Berdasarkan data BPS produksi jahe dan kunyit menjadi yang tertinggi setiap tahunnya walaupun pada tahun  2017 produksi tanaman biofarmaka turun.

Sentra produksi tanaman biofarmaka kelompok rimpang adalah Pulau Jawa. Produksi jahe dan kunyit tertinggi ada di Jawa Timur sedangkan produksi lengkuas dan kencur ada di Jawa Tengah.

Produksi yang melimpah tersebut ternyata tidak sejalan dengan banyaknya tanaman obat yang diekspor. Menurut Kementrian Perdagangan pada tahun 2014 sampai 2018 produk tanaman obat yang diekspor cenderung turun. Trend ekspor tanaman obat pada tahun 2014 sampai 2018 yaitu -18,07%. Jika dilihat dari perubahan pada bulan Januari – Juni pada tahun 2018 dan 2019 ekspor tanaman obat juga menunjukan penurunan dari 8.142,3 Ribu US$ menjadi 5.989,5 Ribu US$. Perubahannya sebesar -26,44%.

Hal tersebut seharusnya menjadi perhatian, baik pemerintah maupun masyarakat mengingat komoditi tanaman biofarmaka ini termasuk 10 komoditi potensial. Selain peningkatan produksi, perbaikan kualitas juga ditingkatkan sehingga mendorong peningkatan permintaan ekspor. Masyarakat juga dapat memanfaatkan potensi ini sebagai ladang usaha.