Peristiwa 4 Januari 1946: Pemindahan Ibu Kota Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta

135

Setelah merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia tidak langsung menjadi negara yang kuat. Indonesia kembali mendapat serangan dari Belanda yang menganggap Indonesia masih menjadi negara jajahannya. Belanda pun kembali ke Indonesia dengan membonceng NICA (Netherland Indies Civil Administration). Tujuan Belanda adalah untuk kembali menduduki Indonesia.

NICA melakukan berbagai kerusuhan di Jakarta, dimana saat itu Jakarta menjadi ibu kota Indonesia. NICA memulai pertempuran di Jakarta Utara, hingga melebar ke wilayah Jakarta Timur sampai Bekasi.

NICA menuduh presiden Soekarno yang telah melakukan kerusuhan di berbagai wilayah di Jakarta. Hal itu menyebabkan Soekarno harus berpindah-pindah setiap malam untuk mendapatkan tempat yang aman. Cindu Adams menuturkan dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, bahwa Soekarno memilih rumah orang-orang yang dapat dipercaya. Setelah jam enam sore jalanan tidak aman, Soekarno pun menyamar sebagai sopir atau pekerja kasar dengan memakai sarung dan blangkon. Soekarno berjalan seperti orang pincang atau cara lain agar tidak diketahui oleh tentara Belanda. Soekarno mengetuk pintu rumah yang dituju dengan sangat pelan. Kadang-kadang tidak ada orang yang mau menjawab karena takut dengan orang yang tidak dikenal.

Situasi Jakarta yang sudah tidak aman menyebabkan Soekarno harus memindahkan ibu kota Indonesia, Yogyakarta dipilih karena Yogyakarta relative aman dan sudah memiliki tatanan pemerintahan yang baik. Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam VIII juga mengirimkan surat yang isinya mempersilahkan Yogyakarta untuk dijadikan ibu kota. Dini hari tanggal 4 Januari 1946, Presiden Soekarno dan wakil Presiden Moh. Hatta serta beberapa pejabat tinggi bertolak dari Jakarta ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta api. Penggunaan transportasi kereta api dinilai lebih aman daripada transportasi lain karena seluruh penjuru kota telah dikuasai oleh Belanda. Perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta akan sangat beresiko. Oleh karena itu, gerbong kereta Soekarno dan para pemimpin Indonesia lainnya dipisahkan dari gerbong yang lain. Gerbong tersebut juga dibiarkan gelap. Hal ini karena seluruh kereta api akan diperiksa oleh Belanda. Dengan memadamkan cahaya di gerbong yang digunakan, maka Belanda akan menilai bahwa gerbong tersebut kosong. Soekarno dan yang lain melewati rute Pegangsaan Timur-Manggarai-Jatinegara-Bekasi-Cikampek-Cirebon-Purwokerto-Kroya-Kutoarjo-Yogyakarta.

Tepat pagi hari Soekarno dan yang lain tiba di Yogyakarta. Mereka disambut langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam VIII, Jenderal Soedirman, dan para pejabat tinggi lainnya, serta rakyat Yogyakarta. Soekarno kemudian menjadikan gedung Agung sebagai istana kepresidenan di Yogyakarta. Presiden Soekarno mengatakan bahwa perpindahan ibu kota ke Yogyakarta bersifat sementara.