Pengembangan Busana Warisan Leluhur yang Menemui Dilema

24

Bangsa Indonesia yang dihuni oleh banyak sekali suku, keberagaman budaya di dalamnya mencakup banyak bidang tak terkecuali busana. Warisan leluhur inilah yang menghadapi tantangan perubahan zaman sehingga diperlukan kreativitas untuk mengelolanya. Ditengah eksistensi derasnya arus desain busana modern baik dari dalam maupun luar negeri. Yurita Puji, perancang busana, dilema yang muncul tidak hanya soal mempertahankan tapi juga mengembangkannya.

Dirinya berharap agar busana dengan budaya Indonesia bisa mencapai pasar yang lebih luas agar mencapai luar negeri perlu strategi khusus. Ranah penjualan busana yang semakin luas tentunya akan menambah pemasukan para pengrajin dan memotivasi mereka untuk terus berkarya. Dirinya menuturkan bahwa kalau membawa busana atau baju budaya Indonesia ke luar negeri tidak bisa cerita proses pembuatannya susah dan lain sebagainya. Faktor itu juga menunjang tapi juga dibarengi dengan harga terjangkau.

Ia juga menuturkan bahwa komentar publik yang mau serba asli juga menjadi tantangan lain. Yurita mengambil contoh baju yang merupakan cetakan ukir suku kamoro papua. Menurutnya orang-orang terkadang protes kenapa bukan ditulis?, Padahal menurutnya dirinya hanya ingin memberitahu bahwa mereka punya patung yamate

Menurut Yurita, penjualan busana warisan leluhur akan sangat sulit jika dijual dengan harga mahal. Menurutnya lebih baik dipermudah saja dengan tidak menghilangkan cerita dibaliknya dan melibatkan pengrajin lokal. Menurutnya pihaknya berada pada tahap perkenalan dulu terkait busana warisan budaya Bangsa Indonesia.

Kendala lain yang muncul adalah kurangnya informasi kepada pengrajin terkait kebutuhan pasar. Karena dirinya selalu berusaha dan berharap untuk membawa pengrajin lokal ke event – event busana agar pengrajin mempunyai gambaran umum tentang kebutuhan pasar.

Menurut cerita Yurita, dirinya pernah membawa pengrajin asal NTT, awalnya para pengrajin tersebut menjual kain seharga 7 juta. Tetap setelah mengetahui keadaan pasar secara langsung, akhirnya mereka menawarkan dengan harga Rp 300-400 ribu. Pemasukan para pengrajin tersebut sangat intens dan akhirnya mereka produksi terus. Menurut Yurita, agar konsumen atau pembeli jangan terlalu menuntut produk secara asli.

Hal tersebut maksudnya adalah misal saja noken yang ingin dikembangkan karena di tempatnya asal belum ada pewarna alami dengan shade lengkap , bahan bakunya  diwarnai di daerah lain. Menurutnya jadi sembari belajar, seperti produk papua tapi diwarnai di Lombok, setelah dipintal, dikirim ke lombok terus dikirim lagi ke papua untuk mulai dirajut. Kalau ingin berkembang menurut Yurita, jangan terlalu keras hati dalam soal produksi.

Yurita menuturkan bahwa dalam berbusana warisan leluhur tertua dalam pengembangannya, pengrajin berperan sangat penting. Karena menurut Yurita, para pengrajin agar tetap berproduksi dan mendapat pemasukan secara intens dan juga sembari melestarikan budaya bangas Indonesia. Yurita mengatakan, jangan sampai dior cetak batik di India, kita rebut, yang salah adalah kita sendiri yang tidak mau mengembangkannya.

Apresiasi kepada para pengrajin juga salah satunya dalam bentuk tidak perlu menawar jualan mereka, kalau bisa malah lebihin, walau sedikit. Menurut Yurita pengrajin tersebut membuat hasil karyanya membutuhkan waktu lama, bisa sampai berbulan – bulan kalau dilebihin akan membuat para pengrajin senang dan semangat membuatnya lagi.