Pendidikan Sekuler Racun Karakter Bangsa?

22

Dunia pendidikan merupakan wadah untuk meningkatkan kualitas peradaban. Karena pendidikan adalah sarana untuk mencetak generasi dalam estafet perjuangan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan berperan penting dalam membentuk karakter bangsa. Segala sesuatu yang diajarkan akan diserap oleh si penerima ilmu dan bisa jadi akan diemban seumur hidupnya atau menjadi kebiasaan dalam diri si penerima ilmu.

Namun saat ini, tidak sedikit berita yang mengusik emosi bahkan miris untuk didengar telinga. Seorang guru dianiaya muridnya sendiri yang seharusnya tunduk dengan penuh rasa hormat. Seorang guru dilawan muridnya sendiri hanya karena si murid tidak terima telah diambil ponselnya yang jelas-jelas sudah melanggar aturan. Masih banyak lagi kasus semacam ini di dunia pendidikan hari ini. Mari kita renungkan, dimana adab yang harus dijaga seorang murid terhadap gurunya? Bukankah islam mengajarkan adab dengan sangat baik bahkan memposisikannya mendahului ilmu?

Saat ini, karakter sedang diguncang akibat pendidikan yang memisahkan diri dari agama. Benarkah? Ya, kurikulum yang diberikan kurang mengajarkan penerapan islam dalam kehidupan sehari-hari. Wawasan tentang pergaulan lawan jenis kurang diperhatikan, bahkan ilmu mempelajari bunga bank pun ada, padahal kita sebagai umat muslim tau bahwa riba (bunga) itu haram, porsi yang diberikan untuk mempelajari islam secara mendetail juga kurang khususnya pada jenjang perguruan tinggi.

Padahal, seperti yang kita tahu, bahwa islam telah memberikan aturan tingkah laku secara sempurna bagi semua orang. Bagaimana bersikap kepada yang lebih tua, bagaimana tata cara menuntut ilmu yang benar agar ilmunya berkah, bagaimana hidup seorang muslim terhadap sesama, bagaimana sikap kepedulian, dan yang paling penting bagaimana manusia hidup di dunia ini sebagai hamba Allah. Semua diatur dengan baik dan detail dalam islam. Jika pengetahuan atau ilmu islam semacam itu diajarkan hingga menghujam dalam diri manusia, akankah seorang murid berani melawan gurunya sendiri? Tidak, bukan? Karena dia sadar bahwa sebagai murid harus menjaga adab dan sebagai hamba dia harus taat pada Allah yang memerintahkannya menjauhi sikap tercela semacam itu.

Dahulu, pendidikan islam berjaya pada masanya dengan melahirkan para ilmuwan berbakat yang berkarakter islami seperti Ibn Sina, Al-Khawarizmi, Ibn Khaldun dan masih banyak lagi. Alhasil, para ilmuwan islam tidak hanya tuntas dalam bidang teori dan penerapan, tapi juga tuntas pemikiran dalam hal keislamannya. Maksudnya, para ilmuwan ini mampu menjadi generasi berkualitas sekaligus hamba yang taat pada penciptanya.

Jika manusia telah sadar akan hubungannya dengan Allah, apakah dia akan memiliki sikap tercela? Cerdas tapi korupsi, berpendidikan tinggi tapi kejam terhadap sesama, berwawasan luas tapi kurang adab. Inilah pendidikan yang memisahkan agama dengan kehidupan. Generasi penerus adalah estafet perjuangan yang mempimpin peradaban. Setujukah jika pendidikan islam diterapkan?