Pemakaman Almarhum Mbah Moen di Mekkah dan Mengenang Nasihat Mbah Moen

16
Pemakaman Almarhum Mbah Moen Di Mekkah dan Mengenang Nasihat Mbah Moen

Kyai Maimun Zubair, atau yang lebih dikenal sebagai mbah moen, wafat di mekah pada selasa, 6 Agustus 2019. Mbah moen merupakan sosok pemimpin pondok pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Beliau meninggal pada usia 91 tahun. Mbah moen yang meninggal di mekkah, Arab Saudi pada selasa subuh kemarin, waktu setempat telah dimakamkan di mekkah tepatnya di Ma’la. Komplek pemakaman tertua dekat mekkah. Abdul Ghaffar Rozin atau nlebih dikenal dengan Gus Rozin, Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Dalam Negeri, mengatakan bahwa ada mbah moen berpesan agar kalau wafat di mekkah ingin di makamkan di Ma’la.  

Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia, memastikan jenazah almarhum mbah moen dimakamkan di Mekkah. Lukman juga mengatakan ada permintaan kelaurga almarhum agar fimakamkan di Mekkah, dan pihaknya sedang mengupayakan pemakaman di Ma’la. Kh Musthofa Aqil Siroj, Ketua PBNU, juga mengatakan hal senada bahwa jenazah almarhum mbah moen dimakamkan di Mekkah.

Meskipun, mbah moen tidak lagi muda, tapi kharisma, dan pesonanya tak pernah pudar. Mbah moen tidak pernah membedakan setiap tamu yang datang ke kediamannya baik itu warga biasa atau pejabat sekalipun yang meminta untuk didoakan. Banyak yang menawarkan untuk merenovasi ruang tamu mbah moen, namun semuanya ditolak.

Jika ada yang ingin membantu, mbah moen menyarankan agar lebih baik menyumbang untuk keperluan pondok pesantren al anwar. Istri mbah moen, Hj Heni Maryam, mengatakan mbah moen lebih memikirkan para santri. Selain pada santri, mbah moen juga sangat peduli pada persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. mbah moen merupakan ulama kharismatik dan juga Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama serta selalu konsisten berjuang untuk tegaknya NKRI.

Salah satu seruan mbah moen agar umat islam sealalu mengamalkan pancasila, bhinneka tunggal ika, uud 1945 dan selalu menjaga persatuan NKRI, kepada para pemuda, mbah moen juga berpesan agar para pemuda menjadi penerus yang tidak terpecah belah dan baik. Perbedaan yang muncul, baik itu di politik atau pendapat, merupakan suatau yang biasa dan lumrah sehingga setiap warga harus mengelola dan mengendalikan perbedaan tersebut.

Mbah moen sempat berpesan bahwa filsafat bangsa Indonesia itu bedo tapi podo, podo tapi bedo (berbeda tetapi sama, sama tapi beda), Bhinneka Tunggal Ika, artinya damai, artinya jangan timbul permusuhan. Meskipun mbah moen sudah sepuh, tapi jika membahasa keadaan soal bangsa Indonesia dan persatuan bangsa, mbah moen tetaplah semangat didalam mendiskusikannya. Usia sepuh juga tidak menghalangi mbah moen untuk sholat berjamah.

Bahkan di saat terakhirnya pun, mbah moen sangat antusias dan tidak ingin ketinggalan untuk shalat berjamaah di masjidil haram. Menurut Gus Hayatullah Maki, santri mbah moen yang menemani di Mekkah, kegiatan mbah moen sehari hari selama di sana adalah shalat berjamaah di masjidil haram.

sumber:news.detik.com, tribunnews.com