Pelatih Jonathan dan Ginting Balas Kritikan dengan Prestasi

8

Pasca pergelaran Sudirman Cup 2019 di China pada Mei lalu, banyak legenda legenda bulutangkis Indonesia yang melemparkan kritiknya terhadap PBSI. Kritikan ini muncul karena Indonesia tidak bisa membawa kembali piala sudirman ke tanah air. Piala Sudirman baru sekali dimenangkan Indonesia yakni pada tahun 1989 pada penyelenggaraan pertama piala Sudirman Cup.

Salah satu sektor yang mendapatkan kritikan pedas ialah sektor Tunggal Putra. Dari 4 pertandingan yang dimainkan Indonesia, pemain tunggal putra Indonesia hanya memenangkan 1 pertandingan ketika babak penyisihan grup melawan Inggris. Anthony Sinisuka Ginting berhasil mengalahkan pemain inggris dalam 2 set langsung.

Namun pada pertandingan melawan denmark, Anthony harus kalah dari Victor Axelsen begitu pula ketika babak semifinal Anthony harus mengakui kekuatan Kento Momota dan Gagal membawa Indonesia ke babak final.

Tidak berbeda jauh dari rekannya, Jonathan Christie yang hanya diturunkan sekali ketika melawan Chou Tie Chen tidak bisa memperpanjang rekor kemenanganya. Karena hasil yang buruk ini, legenda tunggal putra Indonesia Rudi Hartono angkat bicara.

Rudy mengatakan bahwa tunggal putra Indonesia tenggelam dan tidak bisa menampilkan permainan yang terbaik di 2019 ini. Peraih 8 kali piala All England ini juga mengatakan bahwa tidak ada pemain yang bisa andalkan di kejuaran bergengsi seperti All England maupun kejuaraan dunia.

Komentar dan kritikan pedas juga datang dari peraih medali emas Olimpiade Athena 2004, Taufik Hidayat. Taufik bahkan secara terang terangan mengatakan bahwa PBSI harus mengganti pelatih tunggal putra karena tidak dapat menghasilkan pemain putra yang kuat. Selama 2019 ini pemain tunggal putra Indonesia memang tidak mengalami kemajuang dan minim prestasi.

Namun, setelah mendapatkan kritikan dari para sang legenda kedua tunggal putra Indonesia ini langsung membayar kritikan tersebut dengan prestasi. Dalam ajang Australia Open 2019 yang baru saja berlangsung, Indonesia berhasil menciptakan All Indonesian Final di sektor tunggal putra. Ginting dan Jojo berhasil melaju ke final setelah mengalahkan wakil dari Taipei.

Anthony Sinisuka Ginting melaju mulus setelah menaglahkan pemain Taiwan Wang Tzu Wei dalam 2 set sekaligus. Sementara jalan Jonathan sedikit lebih curam karena harus melawan Chou Tie Chen yang baru saja mengalahkannya di Piala Sudirman. Namun, Jojo berhasil membalaskan kekalahan itu setelah bermain ketat 3 set sebelum memastikan tiket ke final.

Pada pertandingan Final, Jojo dan Ginting harus bermain 3 set sebelum Jonathan memastikan gelar keduanya tahun ini. Sebelumnya, Jonathan juga berhasil mendapatkan gelar di New Zealand. Prestasi Jojo dan Ginting seakan akan menjawab kegelisahan para seniornya terdahulu.

Melihat prestasi ini, Hendry Saputra selaku kepala pelatih tunggal putra Indonesia menilai kritikan bisa dijadikan semangat dan pemicu pemain untuk terus berprestasi. Menanggapi kritikan tentang pergantian dirinya, Hendry mengatakan bahwa dia dan tim hanya fokus untuk melatih dan memberikan yang terbaik untuk negeri. Semua hasil diserahkan kepada Tuhan ketika mereka sudah bekerja keras.

Namun, Hendry masih mengaku masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh PBSI. Sampai saat ini, hanya Ginting yang berhasil meraih kemenangan dikelas super 500 ke atas. Ginting berhasil menjuarai Indonesia Master 2018, Korea Open 2017 dan yang paling membanggakan ialah China Open 2018.