Pelajaran yang Dapat Diambil Dari Kasus ‘Ikan Asin’

30

Hingga hari ini, ‘Ikan Asin’ masih tetap eksis sebagai salah satu pemberitaan viral yang mendapatkan respon banyak dari netizen. Siapa sangka, akibat sebuah konten youtube, sang narasumber dan youtubernya kemudian berstatus tersangka saat ini.

Baik Galih Ginanjar, Rey Utami dan Pablo Benua, ketiganya ditetapkan sebagai tersangka. Galih dalam masa pemeriksaan mengatakan memang sengaja menyebutkan ‘Ikan Asin’ pada mantan isterinya, Fairuz Arafiq, sebab ingin mempermalukan sang mantan istri. Siapa sangka, niat buruk itu kemudian langsung diganjar dengan jeruji besi.

Demikian juga dengan Rey Utami dan Pablo Benua, akibat konten ‘mulut sampah’ yang ada di channel youtube mereka, sepasang suami istri ini kemudian harus kehilangan hak untuk menghirup udara bebas, dan harus mempertanggung jawabkan konten yang mereka rilis di channel youtube.

Dari kasus ini, kita semestinya bisa merenung dan berusaha mencari pembelajaran atau hikmah yang terkandung di dalamnya. Bahwa, niat buruk, tidak akan pernah berbuah manis. Saat seseorang berniat untuk menghancurkan citra atau nama baik orang lain, sejatinya ia sendiri tengah menghancurkan nama baik dan citranya sendiri.

Pada kasus ini, terlihat sangat jelas, bahwa seorang wanita bagaimana pun, mesti dihormati dan dihargai. Tidak ada satu orang pun yang berhak menghinanya, tidak satu orang pun yang berhak untuk membuat hancur harga dirinya. Dari kasus ini kita melihat, Indonesia sebagai negara yang sangat menjunjung dan menghormati kaum perempuan, bahkan untuk menjadi presiden pun perempuan diberikan hak yang sama dengan laki-laki.

Lantas mengapa dengan entengnya, seorang pria berani mengucapkan kalimat tak senonoh pada wanita di bumi pertiwi ini.

Berkaitan dengan kasus ini, bahkan Komnas Perempuan pun turut memberi dukungan kepada Fairuz, agar tetap tegar dan menuntut keadilan atas penghinaan yang diterimanya. Ya.. semestinya seorang perempuan memang harus begitu. Ia tak boleh lemah! Tak boleh pasrah, mana kala dirinya berusaha untuk dihina, direndahkan atau dipermalukan!

Seorang perempuan harus berani untuk mempertahankan harga dirinya. Karena ia merupakan cikal bakal penentu lahirnya generasi yang tangguh.

Kasus ini juga mengajarkan kepada kita, kembali lagi mengingatkan kita pepatah sakti negeri ini, yaitu ‘mulutmu harimaumu’. Saat Galih Ginanjar dengan mulutnya sendiri menyatakan organ keperempuanan Fairuz dengan sebutan ‘Ikan Asin’, seketika langsung mulutnya berubah menjadi harimau baginya. Ya.. terlihat saat ini, ia sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Semoga dari kasus ini, kita belajar untuk lebih beretika dalam berbicara, santun dalam merangkai kata yang keluar dari mulut kita. Sehingga, apa yang kita ucapkan tidak menjadi boomerang bagi diri kita sendiri.