Pelajaran Hidup dari Ibunda Sarah, Istri Nabi Ibrahim

9
sarah istri nabi ibrahim

Perempuan memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam. Pengorbanannya sebagai istri, ibu dan anak sudah tidak diragukan lagi. Karena surga adalah tujuan yang utama, maka sudah sepantasnya seorang muslimah mencontoh para Nabi dan Rasul serta sahabat yang sudah dijamin masuk surga. Kali ini tentang Sarah, perempuan yang tegar diberi ujian hingga Allah anugerahi seorang anak di usia senjanya.

Ibunda Sarah disebut seorang istri dari nabi dan rasul yaitu istri Nabi Ibrahim alaihi salam. Selain itu ibu dari seorang nabi yaitu Nabi Ishaq, anak dari pernikahan dengan Nabi Ibrahim. Disebut juga nenek dari seorang nabi karena Sarah adalah nenek dari Nabi Yaqub. Sarah juga ibu dari seorang nenek nabi yaitu Nabi Yusuf, anak dari Nabi Yaqub. Serta pendamping ibu dari seorang nabi yaitu Hajar sebagai ibu dari Nabi Ismail. Dikatanya pula bahwa kepada Sarah berakhir garis keturunan/nasab para nabi Bani Israil dari pihak ibu, seperti Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, dan lainnya.

Dalam perjalanan hidupnya terdapat dua hal yang bisa kita petik hikmahnya. Pertama, ketika Allah memberikan ujian kepada Sarah saat menghadap Raja Mesir yang kafir, kejam dan senang berbuat maksiat. Setiap ada perempuan dengan paras cantik ia akan memaksa menikahinya, baik sudah bersuami maupun belum.

Suatu waktu Nabi Ibrahim dan Sarah sampai di perkampungan dimana Raja tersebut tinggal. Paras cantik Sarah menarik perhatian. Laporan bahwa Nabi Ibrahim datang bersama perempuan cantik sampai Raja. Saat itu juga Raja meminta mereka menghadap. Nabi Ibrahim alaihi salam saat itu berkata bahwa beliau datang bersama saudara perempuannya. Dalam hal ini Nabi Ibrahim tidak berbohong karena yang beriman kepada Allah saat itu hanyalah mereka, sudah pasti Sarah adalah saudara seiman.

Sarah meminta izin untuk berwudhu dan mendirikan sholat ketika sampai di istana. Ia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sungguh ENgkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan utusan-Mu, dan aku senantiasa menjaga kemaluanku, kecuali kepada suamiku. Karena itu, janganlah Engkau kuasakan diriku kepada orang kafir.”

Doa tersebut dikabulkan oleh Allah. Ketika raja mendekat, seketika kakinya susah digerakkan. Raja meminta Sarah untuk berdoa agar kakinya bisa normal kembali. Setelah sembuh, raja kembali mencoba menyentuh Sarah.  Sarah berdoa lagi dan Allah menimpakan hukuman yang sama kepada Raja. Begitu seterusnya setiap raja ingkar dan mencoba menyentuh Sarah lagi hukuman kembali dan lebih parah. Raja tak habis pikir akhirnya menyerah. Ia menyuruh Sarah dikembalikan kepada Nabi Ibrahim dan menghadiahkan seorang pelayan yaitu Hajar.

Kedua, kelahiran anak di usia senja. Setelah kejadian tersebut, singkat cerita Hajar menikah dengan Nabi Ibrahim karena menginginkan keturunan. Maka lahirlah Ismail. Dalam hati, Sarah terbakar cemburu. Wajar ia juga ingin memberikan keturunan namun mengingat usia yang sudah tua dan mandul rasanya mustahil. Suatu ketika datang tamu ke rumah Nabi Ibrahim. Ketika disuguhi makanan, tamu tersebut tidak menyentuh sama sekali. Ternyata mereka adalah malaikat yang diutus Allah untuk menyampaikan kabar gembira. Dalam Surah Hud ayat 69-73 disebutkan bahwa akan lahir seorang anak yaitu Nabi Ishaq. Sarah tidak percaya namun dijelaskan bahwa ketetapan Allah tidak bisa diragukan.

Dua peristiwa tersebut dapat dipetik hikmahnya bahwa ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berbuah manis. Jika tidak mendapatkannya di dunia, maka Allah akan memberikannya di surga. Serta bukan hal yang mustahil untuk Allah untuk menjadikan apa yang mustahil pada pandangan manusia. Ibunda Sarah adalah contoh muslimah yang taat kepada Allah. Paras yang cantik bisa menjadi cobaan. Kesabaran sekian lama belum memiliki keturunan dibayar kontan oleh Allah bahkan darinya berakhir sepuluh garis keturunan para nabi Bani Israil.

Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.