Pekerja Eropa Terkena Ancaman Potong Gaji dan PHK

21

London, 20 April 2020 Laporan McKinsey menyebutkan bahwa kurang lebih sebanyak 60 juta pekerja yang berada di seluruh Eropa  terancam akan dipotong gaji bahkan PHK selama pandemi corona ini.Satu dari empat pekerjaan di Uni Eropa dan Inggris juga terancam pengurangan jam kerja, jumlah upah dipotong, pekerja dirumahkan hingga PHK secara permanen.

Terdapat beberapa jenis pekerjaan yang memiliki risiko tinggi seperti kasir, staf hotel, pekerja konstruksi, koki hingga aktor. Sejumlah 80 persen yang berisiko tinggi ini ditekuni oleh orang-orang yang tidak mempunyai gelar sarjana.

Tingkat pengangguran selama pandemi corona di Uni Eropa mengalami peningkatan  hingga 11 persen dari sebelumnya 6 persen.  Lonjakan ini karena masih banyak kasus infeksi virus yang belum bisa ditangani.

Hal ini juga  merupakan asumsi negara-negara di Eropa tidak berhasil menangani penyebaran virus corona ini selama waktu 3 bulan. Sehingga tingkat pengangguran yang terjadi akan mencapai puncaknya  diprediksi tahun 2021 mendatang sekitar 11,2 persen.

Memang sangat penting untuk melindungi pekerjaan yang berisiko di perusahaan yang produktif dan perusahaan yang sehat. Kehilangan pekerjaan memang suatu hal yang menyakitkan terutama untuk kalangan bawah hingga kelas menengah  dan akan lebih menyakitkan jika dilihat dari perspektif ekonomi.

McKinsey mengungkapkan agar masalah kerja ini bisa teratasi, pemerintah serta sektor bisnis perlu cepat bergerak. Jadi dalam hal ini, perusahaan perlu menerapkan solusi misalnya memangkas biaya, mengizinkan kerja jarak jauh atau bekerja dari rumah untuk bidang pekerjaan yang memungkinkan serta jam kerja sebaiknya dipisah.

Kemudian, pemerintah juga perlu menyediakan jaminan pinjaman ataupun pembayaran jaminan untuk para pekerja dan keringanan bayar pajak. Beberapa hal kebijakan memang sudah dilakukan di Eropa. Hal ini bisa dilihat dari pemerintah Inggris yang bersedia menanggung sebesar 80 persen gaji para pekerja. Setidaknya selama 3 bulan ke depan sampai maksimalnya sebesar 2500 poundsterling setiap bulannya.

Uni Eropa juga menyediakan paket bantuan selama pandemi virus corona ini sebanyak 100 miliar euro atau jika dihitung dalam rupiah sebesar Rp 1,6 triliun serta ratusan miliar pinjaman untuk kredit dan bisnis. Langkah Uni Eropa ini dilakukan demi mempertahankan perekonomian agar tetap bisa berjalan.

Perlu diketahui juga di Amerika Serikat, pasar tenaga kerja luluh lantak sebab wabah corona ini.  Sejak bulan Maret lalu, tingkat pengangguran  di Amerika Serikat meningkat hingga 4,4 persen. Penyebaran virus corona yang masih belum teratasi dengan baik hingga saat ini memang menjadikan berbagai masalah, salah satunya adalah pada perekonomian.