Pandangan Katolik Terhadap Perceraian

14

Perceraian dalam hubungan pernikahan bisa saja dialami oleh semua orang, termasuk mereka yang beragama Katolik. Lantas bagaimana Pandangan Katolik terhadap perceraian.

Sampai saat ini diketahui bahwa tidak ada perceraian di dalam agama Katolik. Ini berarti bahwa gereja tidak mengakui perceraian suami dan isteri secara Katolik. Hal ini ditegaskan dengan adanya UU No.1 Tahun 1974 pasal 39 ayat (1) tentang perkawinan, yang menyatakan bahwa perceraian di pengadilan dianggap tidak sah secara hukum katolik. Gereja katolik masih menganggap mereka suamai-isteri bahkan setelah mereka bercerai dan menikah lagi dengan orang lain.

Dr. Al Purwa Hardiwardoyo pernnah menulis bahwa di dalam katolik kekuasaan untuk menceraikan perkawinan diberikan oleh hukum gereja kepada Paus di Roma. Uskup hannya diberi kekuasaan untuk mengizinkan perceraian dari perkawinan orang yang non-gerejawi, atau perceraian antara dua orang yang bukan Kristen.

Hardiwardoyo juga menuliskan bahwa secara teori, istri yang beragama katolik dapat memohon agar Paus di Roma berkenan menceraikannya dari suaminya. Taapi di dalam praktiknya permohonan itu sangat jarang dikabulkan, karena adanya prinsip gereja katolik yang menentang perceraian.

Tapi meskipun demikian, dalam hukum katolik ada prosedur pembatalan perkawinan (anulasi). Berikut prosedur pengurusan bila umat katolik ingin membatalkan perkawinannya, yang dilansir dari situs gerejastanna.org.

  • Untuk mengurus pembatalan perkawinan secara katolik, pasangan harus datang ke pastor paroki tempat anda menikah sebelumnya. Kemudian anda akan dibantu oleh pastor untuk membuat dokumen yang perlu dipersiapkan sebelum kasus anda dibawa ke pengadilan secara gerejani.
  • Pastor paroki akan melakukan wawancara atau meninjau anda dan pasangan anda apakah ada alasan yang masuk akal untuk membawa kasus perceraian anda ke pengadilan gerejani.
  • Untuk melaksanakan pernikahan lagi secara katolik, pernikahan sebelumnya harus dibatalkan terlebih dahulu dan dinyatakan sah di pengadilan gereja.
  • Apa bila ternyata tidak ditemukan alasan yang kuat untuk membatalkan pernikahan anda, anda tidak bisa meneruskan pembatalan pernikahan anda, dan anda tidak dapat melaksanakan pernikahan lagi secara katolik. Hal ini berarti meskipun anda sudah sah bercerai secara sipil, secara gerejani anda masih terikat sebagai suami dan istri meskipun anda sudah sama-sama menikah lagi.

Dalam pernikahan secara Katolik, memang tidak diperbolehkan untuk bercerai karena apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak bisa diceraikan manusia, hal inilah yang mendasari kenapa umat Kristen menolak perceraian. Akan tetapi masih saja ada dari beberapa dari mereka tetap melaksanakan perceraian, lalu bagaimana nasib mereka?

1.Hanya Berlaku di Catatan Sipil

Sesuai penjelasan di atas tadi, bahwa perceraian yang dilakukan di catatan sipil saja tidak diakui di gereja Katolik, mereka akan tetap dianggap sebagai pasangan suami istri. Akibatnya mereka tidak akan bisa menikah lagi secara iman Katolik.

2.Hidup Dalam Pernikahan Tidak Sah

Gereja menganut paham pasangan satu pria dan satu wanita. Ketika mereka melakukan pernikahan lagi dengan orang lain, pernikahan mereka akan dianggap tidak sah oleh gereja, dan juga mereka dianggap melakukan dosa karena berhubungan bukan dengan pasangannya.

3.Solusi yang Mungkin Bisa Dilakukan

Misalkan saja gereja tidak mengakui pemutusan ikatan perkawinan mereka dalam Pengadilan Negeri, mereka bisa saja mengajukan pembatalan pernikahan seperti penjelasan di atas, atau solusi lainnya mereka bisa pisah ranjang. Meskipun masih terikat dengan status pernikahan, tetapi mereka tidak harus tinggal di tempat yang sama.

Berdasarkan data statistik dari PBB, kurang lebih ada sekitar 50% pernikahan orang Indonesia harus berakhir dengna perceraian. Banyak factor yang mendasarinya, bisa dari ketidak cocokan, masalah ekonomi, soaial, lingkungan, dan lain-lain.

Tidak hanya pada kalangan tertentu, kasus perceraian bisa menimpa siapa saja tanpa memandang status sosial, suku, ras, maupun agama. Bahkan kesulitan untuk menjalani hidup setelah pernikahan juga menimpa orang Katolik. Lantas bagaimana pandangan iman Katolik terhadap perceraian?