Pandangan Agama Hindu Terhadap Eutanasia

20

Eutanasia adalah tindakan mengakhiri kehidupan makhluk dengan sengaja yang sedang sakit berat atau luka parah. Aturan dalam pelaksanaan eutanasia berbeda-beda di tiap negara. Bahkan di beberapa negara, eutanasia dianggap melanggar hukum. Secara terminologi, kata eutanasia berasal dari Yunani, eu dan thanatos. Eu yang berarti baik dan thanatos yang berarti maut atau kematian. Jika digabungkan, memiliki arti kematian yang baik.

Istilah eutanasia pertama kali digunakan oleh Hippokrates (seorang dokter Yunani kuno) dalam Sumpah Hippokrates pada 400-300 SM yang berbunyi: “Saya tidak akan menyarankan dan atau menggunakan obat yang mematikan kepada siapa pun meskipun telah dimintakan untuk itu.”

Eutanasia menjadi perdebatan tersendiri sejak abad ke-19. Pada tahun 1828, terdapat undang-undang anti-eutanasia. Namun, pada tahun 1935 terbentuk pendukung eutanasia pertama kali di Inggris dan diikuti oleh negara lain seperti Amerika dan Swiss.

Akan tetapi, pada tahun 1939, ada sebuah tindakan kontroversi mengenai program eutanasia yang dilakukan oleh kelompok Nazi. Program tesebut dikenal sebagai Aksi T4. Hingga akhirnya, setelah kekejaman Nazi dilihat oleh dunia, berkuranglah dukungan terhadap eutanasia.

Berbagai negara saat ini memiliki pandangan tersendiri dalam memandang eutanasia. Di Indonesia, tindakan eutanasia dianggap melanggar hukum. Tertulis jelas pada Pasal 334 KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) yang berbunyi: “Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun.”

Tak hanya dalam lingkup negara, banyak juga agama yang memandang eutanasia tak terkecuali Hindu. Dalam agama Hindu, tindakan eutanasia dilihat berdasarkan ajaran mengenai karma, moksa, dan ahimsa.

Karma adalah suatu konsekuensi murni dari semua perbuatan yang baik maupun yang buruk, secara lahir atau batin dengan pikiran ataupun tindakan. Moksa adalah bebas dari penjelmaan kembali atau reinkarnasi. Ahimsa adalah sebuah prinsip pantang menyakiti siapa pun juga.

Bunuh diri adalah perbuatan yang terlarang dalam agama Hindu. Menurut agama Hindu, perbuatan tersebut dapat mengakibatkan terganggunya proses reinkarnasi. Kembali menurut agama Hindu, jika seseorang melakukan bunuh diri, rohnya tidak masuk surga ataupun neraka, melainkan tetap di dunia fana sebagai roh jahat.

Roh tersebut akan berkelana tak tentu arah hingga mencapai suatu waktu yang telah ditetapkan dan harus dijalani. Setelah itu, roh tersebut masuk ke dalam neraka untuk menerima hukuman lebih berat. Jika sudah, ia dapat reinkarnasi untuk melaksanakan karmanya yang terdahulu.

Agama Hindu pun berpandangan bahwa hanya Tuhan (Shang Hyang Widhi Wasa) yang berwenang menentukan lahir, hidup, dan mati manusia.

Meski begitu, eutanasia hingga saat ini masih perdebatan tersendiri melalui yang pro dan kontra dalam suatu masyarakat. Namun, jika ditinjau kembali menurut kepercayaan dan agama, kebanyakan sepakat bahwa tindakan eutanasia adalah tindakan yang melanggar ketentuan Tuhan.