Merayakan Hari Galungan, Simak Kisah Kemenangan Dharma Melawan Adharma

17

Masyarakat Bali, memiliki adat istiadat merayakan Hari Raya Galungan, atau untuk memperingati kemenangan Dharma saat melawan Adharma. Nah, untuk lebih tau sejarahnya, artikel ini akan membahas mengenai sejarah Kemenangan Dharma Melawan Adharma.

Pada zaman dahulu, terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja dari keturunan Raksasa bernama Mayadenawa. Raja ini memiliki kemampuan yang sangat sakti, yaitu mampu merubah dirinya menjadi wujud apapun. Mayadenawa merupakan Raja yang kejam dan pelit, yang menguasai beberapa daerah yaitu Lombok, Makasar, Bugis, Sumbawa dan Blambangan.

Karena kemampuan Mayadewana sangat sakti, rakyat pun merasa takut kepada Raja kejam itu. Mayadenawa juga memperintahkan rakyatnya untuk memuja dewa dan menghancurkan setiap pura yang ada disekitar kawasan kerajaan. Semua rakyat tunduk karena takut apabila sang Raja murka.

Hingga akhirnya ada seorang pendeta yang bernama Mpu Kulputih yang merasa sangat prihatin melihat kondisi rakyat yang dipimpin oleh Mayadenawa. Mpu Kulputih melakukan ritual doa di sebuah pura bernama Pura Besakih supaya Dewa memberikan sebuah petunjuk untuk mengatasi raya yang kejam itu.

Seorang Dewa bernama Dewa Mahadewa pun mendengarkan doa Mpu Kalputih dan memberikan petunjuk bahwa beliau bisa pergi ke sebuah tempat untuk meminta bantuan yaitu di daerah Jambu Dwipa (India). Lalu, bantuan yang dipimpin oleh Dewa Indra pun datang untuk membantu menumbangkan Raja Mayadenawa.

Kedatangan Dewa Indra dengan pasukannya sudah diketahui oleh Mayadenawa, sehingga Raja itu pun sudah mempersiapkan diri untuk perang. Perang pun terjadi antara kedua belah pihak dan menjatuhkan banyak korban. Sedikit demi sedikit pasukan Raja Mayadenawa berkurang dan makin banyak rakyat pun ingin terbebas dari raja kejam itu sehingga berpihak kepada Dewa Indra. Mayadenawa pun tidak kehabisan akal dan belum mau menyerah untuk mempertahankan kerajaannya.

Pada malam hari, ketika pasukan sedang istirahat, Mayadenawa diam-diam masuk ke tempat peristirahatan para pasukan. Ia memberikan racun pada sumber mata air pasukan Dewa Indra. Alhasil, pagi harinya pasukan pun keracunan karena meminum air yang sudah diracuni oleh Mayadenawa. Dewa Indra mengetahui penyebab keracunan itu adalah mata air yang sudah diberi racun. Akhirnya, Dewa Indra membuat mata air baru bernama Tirta Empul dan semua pasukan bisa pulih kembali karena mata air tersebut. Tirta Empul terus mengalir menjadi sebuah sungai dan dikenal sebagai Tukad Pakerisan.

Disisi lain, Mayadenawa melarikan diri bersama pasukannya yang tersisa. Dewa Indra pun mengejar Mayadenawa. Dengan kemampuannya yang dapat merubah diri menjadi apapun, Mayadenawa mengubah dirinya menjadi burung besar yang disebut Manuk Raya. Dewa Indra yang memiliki kesaktian yang tinggi pula tidak terkecoh dengan Mayadenawa meskipun bisa merubah wujudnya berkali-kali. Dewa Indra pun menemukan Mayadenawa dan berhasil membunuhnya.

Darah raksasa keji itu mengalir dan membentuk sebuah sungai yang dikenal dengan nama Tukad Petanu, dimana sungai ini konon telah dikutuk. Konon, orang yang mengaliri sawahnya menggunakan air sungai ini, hasil panennya akan mengeluarkan darah dan bau hingga 1000 tahun lamanya.

Nah, itu dia sejarah mengenai kemenangan kebaikan (Dharma) melawan kejahatan (Adharma). Semoga bermanfaat ya.