Mengingat Kembali Perjuangan Aek Natas Siregar: Pejuang Kesetaraan Hak Difabel Tuli

20

11 Januari diperingati sebagai Hari Tunarungu Nasional di Indonesia. Ini diprakarsai oleh Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno pada tanggal 11 Januari 1961 melalui kegigihan Aek Natas Siregar.

Berawal dari kisah salah seorang tunarungu yang berjuang keras memperoleh kesetaraan dalam kehidupan bersosial dalam masyarakat. Terutama, hak setara dalam memperoleh pendidikan setinggi-tingginya.

Ia adalah Aek Natas Siregar yang didampingi temannya pergi menghadap Presiden I RI ke istana. Tekad Aek Natas Siregar untuk bisa duduk di bangku perguruan tinggi dan memperoleh hak belajar yang sama dengan generasi muda seusianya, telah membawa ‘angin segar’ bagi para penyandang tunarungu di seluruh Indonesia.

Kegigihannya telah membawa secercah harapan bagi para tunarungu di negeri ini untuk tidak pernah menyerah dan selalu bersemangat kuat untuk menggapai cita-cita mereka.

Berhasil menemui Presiden Soekarno dan mendapat dukungan penuh oleh presiden terhadap kegigihannya, Aek Natas Siregar dan kawan-kawan pun membentuk sebuah organisasi yang dinamakan SEKATUBI atau Serikat Kaum Tuli Bisu Indonesia di Bandung pada tanggal 11 Januari 1961 yang beranggotakan 42 orang.

Ini merupakan wadah nasional pertama yang bergerak dalam bidang kesejahteraan kaum tuna rungu di Indonesia.

Setelah lahirnya SEKATUBI, pada tangggal 23 Februari 1981 juga didirikan Gerakan untuk Kesejateraan Tunarungu Indonesia, yang disingkat dengan Gerkatin.

Organisasi ini berpusat di Jakarta dan sudah memiliki perwakilan di seluruh daerah di Indonesia. Gerkatin merupakan organisasi yang melanjutkan visi dan misi SEKATUBI dalam mencapai kesejahteraan para kaum tunarungu.

Saat ini Gerkatin sebagai wadah yang memperjuangkan hak-hak kesetaraan bagi kaum tunarungu di Indonesia telah melakukan berbagai kegiatan untuk memperdalam semangat para penyandang tunarungu agar tidak mudah putus asa, minder dan merasa rendah diri.

Salah satu upaya nyata dari usaha mulia ini, sekarang telah banyak stasiun-stasiun televisi yang dalam program berita mereka selalu menggandeng seorang peraga bahasa isyarat seperti yang sudah dilakukan saluran televisi nasional, TVRI.

Upaya mulia yang dilakukan TVRI kemudian diikuti beberapa stasiun televisi swasta. Ini sangat membantu kaum tunarungu untuk memperoleh informasi yang sama dengan orang normal. Mereka tetap mendapatkan kabar berita terbaru meskipun tak bisa mendengar secara langsung. Sungguh, usaha yang sangat bermanfaat dan mulia.