Mengenang Sejenak Kisah Thomas Alva Edison, Bocah Bodoh Penemu Lampu

58

Siapa sih yang tidak tahu dia? Seorang ilmuwan dan pengusaha yang menciptakan peralatan-peralatan penting yang sampai saat ini kita gunakan seperti Bola Lampu, dll. Ya, dia Thomas Alva Edison sang penemu yang lahir di Milan, Ohio, Amerika Serikat pada tanggal 11 Februari 1847, dia merupakan putra dari Samuel Ogden Edison dan Nancy Malthew, Thomas Alva Edison di lingkungannya sering dipanggil dengan sebutan Tommy.

Pada masa kecilnya, dia selalu mendapat nilai buruk di Sekolahnya bahkan sampai dikeluarkan dari sekolah. Dilansir dari buku karangan Bob Philips judulnya “mengendalikan emosi-emosi anda”, dia menulis ada berbagai cara ketika seseorang mengurangi depresi mereka yaitu peran orang tua.

Disitu dia menceritakan sepercik kisah Thomas Alva Edison ketika dikeluarkan dari Sekolah karena ketidakmampuan dia untuk mengikuti proses belajar-mengajar yang diajarkan oleh sekolahnya. Akhirnya, gurunya angkat tangan untuk mendidik Tommy dan memanggilnya dengan memberikan sepucuk surat untuk orang tuanya. Guru itu berpesan pada Tommy untuk tidak membuka surat itu di perjalanan, dan langsung diberikan pada ibunya. Dari situ, Tommy pulang ke rumahnya dan memberikan sepucuk surat tadi pada ibunya.

Menerima surat itu; lantas ibunya langsung menangis, sambil berurai air mata ibunya membaca dengan suara keras :

Putra Anda seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuk menampungnya dan tidak memiliki guru yang cukup untuk mendidiknya. Agar anda mendidiknya sendiri, “ujar sang ibu dengan suara lantang.

Ibu Tommy berkata pada Tommy “kamu anak yang jenius nak, sekolah belum cukup baik mendidikmu, mulai saat ini ibu yang akan mendidikmu”.

Tommy mulai belajar di Rumah dengan bebas dan leluasa tanpa harus memikirkan nilai-nilai pelajaran yang harus dicapai. Masa kecilnya, Tommy sudah melakukan eksperimen-eksperimen hebat, sudah membedah hewan-hewan sekitarnya. Di usia 12 tahun, Tommy sudah memiliki laboratorium kimia sendiri di ruang bawah tanah milik ayahnya dan mulai membuat telegraf sederhana.

Di usia 32 tahun, jauh setelah ibunya wafat Tommy menciptakan bola lampu pijar yang membuat dunia tidak gelap lagi. Hingga akhirnya, Tommy menemukan sepucuk surat yang dulu pernah dikasih ke ibunya. Dia membuka dan membaca isinya :

“Putra Anda anak yang Bodoh, kami tidak mengizinkannya lagi untuk pergi ke sekolah” demikian isi surat yang pernah dikasihkan Tommy ke ibunya dulu.

Tommy menangis berjam-jam, setelah membaca surat itu. dia menulis di buku diary nya : “Saya Thomas Alva Edison, adalah seorang anak yang BODOH, yang karena seorang ibu yang luar biasa, mampu menjadi seorang yang jenius pada abad kehidupannya”.

Itulah sepercik kisah Thomas Alva Edison, jika kalian yang merasakan nikmatnya bola lampu hari ini. Kita bukan berhutang pada Thomas Alva Edison melainkan pada seorang ibunya yang melihat anaknya dari sisi yang berbeda. Ketika anak anda dicap bodoh, nakal, kolot lalu siapa yang akan dipercayai selain orang tua?.

Maka dari itu, peran orang tua sangat penting saat mendidik anaknya bagaimana mereka menerima apa adanya yang dimiliki anak, tutur kata juga penting mencoba untuk tidak menggunakan konotasi kata negative pada anak dan mencoba memberikan beribu kalimat positif pada anak.