Mengenal RA Kartini, Sang Ibu Emansipasi Wanita

19
RA-Kartini

Hadirnya buku “Habislah Gelap Terbitlah Terang” merupakan buku fenomenal yang mengisahkan perjuangan RA Kartini dalam upaya memajukan kaum pribumi, khususnya masyarakat Jepara dalam memperoleh pendidikan. Berkat perjuangannya RA Kartini ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional pada masa pemerintahan Presiden Ir. Soekarno. Ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964 yang ditetapkan pada tanggal 21 Mei 1964 serta menetapkan hari lahir RA Kartini sebagai Hari Kartini. Sebagai salah satu hari penting nasional, berbagai kegiatan juga diselenggarakan untuk memperingati hari kartini.

Raden Ajeng Kartini/ RA Kartini merupakan salah seorang aktivis perempuan di masa penjajahan Belanda. Ia terlahir dari keluarga bangsawan atau priyayi. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan kepala wilayah administrasi kepemerintahan di antara kabupaten dan kecamatan dan masih merupakan garis keturunan Sultan Hamengkubuwono VI. Sementara sang ibu bernama MA Ngasirah yang merupakan Hajjah Siti Aminah dan Haji Madirono yang merupakan guru agama di wilayah Telukawur, Jepara. RA Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879. RA Kartini menikah dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 12 November 1903 yang merupakan Bupati Rembang dan mempunyai seorang putra yang bernama Soesolat Djojodiningrat yang lahir pada 13 September 1904, namun RA Kartini tak berumur panjang, 4 hari setelah melahirkan sang anak kemudian ia meninggal dunia. RA Kartini dimakamkan di desa Bulu Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Sebagai seorang anak keturunan bangsawan, RA Kartini memperoleh kesempatan untuk menuntut ilmu. Ia belajar di ELS (Europese Lagere School) dan mempelajari bahasa Belanda. Ia juga banyak memiliki teman yang berasal dari Belanda dan sering berkirim surat kepada mereka. Surat-surat tersebut berisi tentang pemikirannya dan kegelisahan-kegelisah Kartini tentang kondisi perempuan di Jawa yang tidak memiliki kesempatan dan kebebasan yang sama dengan perempuan-perempuan di Belanda. Diantara  temannya yang akrab bernama Rosa Abendanon dan Estelle Stella Zeehandelaar. Dan beberapa artikel atau surat yang pernah ditulis Kartini kepada temannya juga sempat diterbitkan oleh majalah De Hollandsche Lelie.

Upaya RA Kartini dalam memberikan pendidikan dan mencerdaskan warganya dapat terlihat dalam surat-surat yang pernah ia tulis dan dikirimkan kepadanya. Surat-surat ini terhimpun dalam buku yang cukup fenomenal berjudul Habislah Gelap Terbitlah Terang. Usaha yang dilakukan RA Kartini ini, juga mendapat dukungan dari sang suami, yang mana suaminya memberi izin pada Kartini untuk melanjutkan perjuangannya memberikan pendidikan dan membangunkan sebuah sekolah sebagai tempat Kartini mengajar. Sekolah itu terletak di sebelah timur pintu gerbang kantor Kabupaten Rembang.

Berkat upaya gigih RA Kartini dan pengaruh feminis Belanda melalui karya-karya yang dibaca RA Kartini di masa muda seperti karya Louis Coperus (De Stille Kraacht), Van Eeden, Augusta de Witt, Multatuli (Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta) yang kesemuanya menggunakan bahasa Belanda. Telah mengubah cara pandang RA Kartini dan semakin menguatkan tekadnya untuk berjuang memperoleh hak yang sama bagi warga pribumi di daerahnya.