Memanas! Inggris Menyita Kapal Tanker Iran, Ini Alasannya!

18


Kapal tanker Grace I milik iran telah disandera oleh Inggri di selat Gibraltar. Iran mendesak Inggris untuk mengemblaikan kapal tankernya yang disandera.

Selat Gibraltar merupakan wilayah Inggris yang terletak di ujung selatan Spanyol. Selat itu juga langsung tertuju ke laut mediterania. Kementrian luar negeri Iran menuduh penangkapan itu merupakan permintaan pihak lain (Amerika Inggris) kepada Inggris dan merupakan penangkapan sepihak sehingga Iran memprotes keras tindakan tersebut.

Duta besar Inggris untuk Iran, Rob Macaire, dipanggil sebagai bentuk protes. Pernyataan kemlu Iran tersebut menyerukan agar kapal tanker segera dibebaskan, karena itu merupakan permintaan dair pihak AS.

Pihak berwenang Gibraltar menyatakan kapal tanker itu berisi minyak mentah yang diduga akan dibawa ke suriah. Penangkapan ini didasarkan pada putusan sanksi Uni Eropa pada Iran sehingga dilakukan penangkapan.

Kapal tanker tersebut dihentikan oleh petugas bea cukai, polisi dan dibantu mariner kerajaan Inggris. Penangkapan tersebut tepatnya berada pada titik 4 kilometer sebelah selatan selat Gibraltar. Selatan gibralatar merupakan selat yang dikuasai Inggris tetapi Spanyol juga mengklaim wilayah tersebut.

Fabian Picardo, Menteri Gibraltar, berkomentar bahwa pihaknya (Inggris) memiliki alasan untuk meyakini Grace I membawa minyak mentah ke wilayah suriah. Kilang tersebut merupakan milik tertentu yang dikenai sanksi oleh Uni Eropa. Sehingga hal ini membuat pihaknya unutk menahan kapal tersebut dan juga muatannya.

Kapal Grace I mempunyai panjang 330 meter, penahanan ini merupakan buntut panjang dari perseteruan Uni Erop dengan Iran. Hal tersebut membuat Iran untuk meningkatkan pengayaan Uranium melebihi ambang batas yang tercantum pada kesepakatan nuklir 2015 setelah 7 juli 2019. Hal ini juga merupakan respon sanksi AS, sebelumnya drone AS dijatuhkan di wilayah Iran dan beberapa penyerangan dron ke kapal tanker di teluk Oman yang diduga dilakukan Iran.

Perseteruan Iran dan pihak As bersama sekutunya berlangsung sejak lama. Hal ini berawal setelah revolusi Islam terjadi di Iran pada tahun 1979. Masyarakat dan ulama Iran berhasil menggulingkan rezim pahlevi yang didukung pihak barat.

Kemelut perseteruan ini tidak mencapai titik persamaan dan perdamaian, malah pada akhir –akhir ini iran telah mendapatkan berbagai sanksi dari pihak AS dan sekutunya. Hal ini membuat perekonomian Iran tampak lesu. Diperparah lagi dengan berbagai insiden pengerusakan kapal tanker yang diduga dilakukan Iran, penjatuhan dron AS, dan tentunya yang paling mencolok adalah perang Suriah.

Suriah sendiri merupakan sekutu Iran, yang sering bersebrangan pandangan dengan pihak barat.pihak barat pun menuduh opemimpin Suriah melanggar HAM dan memprotes keras hal tersebut agar pemimpin Suriah mengundrukan diri.

Hal ini diperparah dengan banyaknya pemberontak yang datang ke Suriah untuk melengserkan pemimpin Suriah tersebut. Hal tersebut juga memicu Iran dan Russia sebagai sekutu Suriah untuk membantu Suriah mengatasi kemelut di negara tersebut.