Legenda Smong dari Simeulue, Aceh yang Berhubungan dengan Mitigasi Bencana

32

Siapa yang tidak mengenal Indonesia sebagai negara yang rawan akan gempa bumi, tsunami dan letusan gunung api? Indonesia secara geologis terletak di antara Lempeng Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik dan tahukah kalian jika negara ini berada di lingkar api pasifik (ring of fire)? Hal itulah yang menyebabkan rawan sekali terdampak oleh bencana alam, khususnya bencana geologis.

Indonesia berada pada jalur lingkar api pasifik

Sudah sering kita saksikan bersama di televisi, koran maupun media lainnya tentang kisah pilu bencana seperti gempa di Yogyakarta 2006 silam, tsunami yang meminta ratusan nyawa manusia di Aceh pada tahun 2004, dan yang baru saja terjadi di 2018 adalah peristiwa gempa Lombok dan Palu. Berkaca dari pengalaman tersebut, kita dapat mengambil hikmah yakni bencana alam memang tidak dapat dicegah kedatangannya oleh manusia, namun kita dapat melakukan mitigasi bencana sebagai upaya pengurangan jumlah korban jiwa. Lalu apa sebenarnya mitigasi bencana itu? Mengapa mitigasi bencana menjadi hal yang perlu bagi kita semua?

Dikutip dari Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik dan peningkatan kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana. Jadi, mitigasi bencana sangat diperlukan sebagai kesiapan diri dalam menghadapi bencana. Mengingat Indonesia terletak dalam zona merah bencana geologis seperti yang telah dipaparkan.

Sadarkah bahwa sebenarnya sejak ratusan tahun yang lalu nenek moyang kita telah menyadari akan pentingnya mitigasi bencana? Terlepas dari kecanggihan alat untuk mempermudah deteksi bencana, nenek moyang kita sejak dahulu telah mempelajari bahwa kampung halaman mereka rawan sekali terdampak oleh gempa bumi, maupun tsunami. Simeulue, merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang secara geografis posisinya berada di 150 km dari lepas pantai barat Aceh.

Berdasarkan fakta tersebut, tentu jika tsunami datang akan mudah terkena terjangan air laut yang naik ke daratan. Sejak peristiwa yang menimpa pada 1907, Simeulue terkenal akan legenda yang menceritakan bahwa masyarakat harus pergi ke tempat yang tinggi sesegera mungkin setelah gempa jika diikuti dengan penyurutan air laut. Hingga masa ini, legenda tersebut dikenal dengan “Smong” yang artinya adalah tsunami.

Smong yang telah diturunkan turun-temurun hingga saat ini menjadi suatu kearifan lokal masyarakat Simeulue, yang diceritakan pada anak-anak sebagai pengantar tidur maupun dalam cerita sehari-hari, sebagai syair nyanyian dalam hiburan, maupun upacara adat.

Enggelan mon sao surito (dengarlah suatu kisah)
Inang maso semonan (pada zaman dahulu kala)
Manoknop sao fano (tenggelam suatu desa)
Uwilah da sesewan (begitulah dituturkan)

Unen ne alek linon (diawali oleh gempa)
Fesang bakat ne mali (disusul ombak besar)
Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo maawi (secara tiba-tiba)

Anga linon ne mali (jika gempanya kuat)
Uek suruik sahuli (disusul air yang surut)
Maheya mihawali (segeralah cari tempat)
Fano me senga tenggi (dataran tinggi agar selamat)

Ede smong kahanne (itulah smong namanya)
Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (ingatlah ini semua)
Pesan navi-navi da (pesan dan nasihatnya)

Smong dumek-dumek mo (tsunami air mandimu)
Linon uwak-uwakno (gempa ayunanmu)
Elaik keudang-keudang mo (petir gendang-gendangmu)
Kilek suluih-suluih mo (halilintar lampu-lampumu)

Dari syair Smong di atas, sudah tertera sangat jelas bagaimana tindakan yang seharusnya dilakukan ketika gempa tiba-tiba datang yang disusul oleh tsunami. Dikutip dari Majalah Travelnatics Vol. 5 (2014), dari ratusan ribu korban tsunami Aceh pada 2004, hanya sekitar enam orang korban yang tewas di Simeulue. Padahal pada saat itu Simeulue hanya berjarak 40 mil laut dari episentrum gempa, dimana posisinya berada sangat dekat dan merupakan lokasi yang mendapat dampak gempa paling besar.

Meski kerugian harta benda tetap ada, tetapi fakta ini menunjukkan bahwa Smong sebagai kearifan lokal memberikan peran sebagai salah satu mitigasi bencana. UN ISDR (United Nation International Strategy for Disaster System) memberikan penghargaan “Sasakawa Award” kepada masyarakat Simeulue atas budaya Smong yang telah diturunkan ratusan tahun sebagai upaya penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi dan tsunami.

Smong, merupakan legenda nenek moyang Aceh yang masih eksis hingga zaman modern sekalipun. Lantas, mengapa di tempat lain saat terjadi gempa bumi atau tsunami masih memakan ribuan nyawa? Jika memang nenek moyang kita telah menurunkan berbagai kearifan lokal sebagai bentuk penjagaan pada alam, apa salah kita sebagai manusia atau ‘kah alam benar-benar melampiaskan amarahnya?