Lagi, Ritel Makanan Besar di Indonesia, Giant, Tutup 6 Gerai, Apa Alasannya?

27

Beberapa waktu lalu kita tentu pernah mendengar mengenai tutupnya beberapa ritel makanan, Giant. Salah satu ritel makanan terbesar di Indonesia ini ternyata tidak mampu bersaing dalam pasar ritel Indonesia. Bos HERO sekaligus Giant terpaksa menutup beberapa gerainya agar perusahaan tetap bisa berjalan dengan baik.

Sebelumnya beberapa gerai HERO juga sempat ditutup menyusul tercatatnya kerugian yang cukup besar. Menurut Hadrianus Wahyu Trikusumo, Direktur PT Hero Supermarket Tbk (HERO), perusahaan sedang berusaha melakukan perubahan agar tetap bisa bertahan di pasar Indonesia. Berbagai macam transformasi dilakukan demi keberlangsungan perusahaan.

Akibat tindakan penutupan beberapa gerai, pihak Giant juga harus berhadapan dengan Bursa Efek Indonesia. Mereka menanyakan perihal penutupan beberapa gerai karena tentu akan berdampak pada penjualan saham HERO. Pihak HERO pun telah memberikan pernyataan tertulis mengenai keputusan emiten dalam menutup gerai tersebut.

Hadrianus mengatakan, “Dalam beberapa tahun terakhir persaingan bisnis makanan mengalami peningkatan. Pelanggan telah mengubah cara mereka berbelanja dan kami telah melakukan penyesuaian serta penyegaran untuk Giant, guna memenuhi perkembangan preferensi dari pelanggan.” Memang benar bahwa konsumen saat ini menunjukkan pribadi yang cuek dan lebih suka segala yang praktis seperti tinggal klik dan kemudian barang tiba di rumah.

Hingga saat ini, Giant dan HERO masih dipertahankan. Keduanya dipertahankan dengan bantuan dana dari Guardian dan IKEA yang masih satu induk perusahaan dengan HERO Dan Giant. Kedua ritel ini memiliki prospek yang sangat baik ke depannya sehingga mampu menjadi pemimpin ritel di Indonesia.

Sejak ditutupnya beberapa gerai Giant dan HERO tercatat sudah 523 karyawan harus mendapatkan PHK. Hal ini tentu menjadi berita yang sangat miris. Chairul Tanjung pun ikut memberikan tanggapannya. Ia mengatakan bahwa dalam bisnis ritel harus mampu mengubah bisnis model. Jika sebuah perusahaan tidak merubah bisnis model mengikuti demand konsumen, maka tidak akan bisa bertahan dalam persaingan bisnis.

Belakangan ini beberapa perusahaan asli Indonesia memang mengalami cukup banyak kerugian. Sebut saja Garuda Indonesia yang mencatat kerugian cukup besar hingga mengalami masalah pada laporan keuangannya. Begitu pula dengan Krakatau Steel yang ternyata mengalami kerugian selama 7 tahun belakangan akibat kalah bersaing dengan perusahaan baja asal Cina.

Melihat banyaknya perusahaan yang mengalami kerugian bahkan hingga harus menutup beberapa gerainya diharapkan mendapatkan perhatian khusus dari para pemimpin Indonesia agar mampu menjaga kestabilan ekonomi terutama dengan memberdayakan perusahaan lokal asli Indonesia.