Lagi-Lagi Banjir Jadi PR Para Pemimpin Jakarta

13

Jakarta, kota metropolitan yang menjadi idaman banyak orang masih juga memiliki PR yang tidak pernah bisa diselesaikan dengan baik oleh para pemimpinnya. Banjir. PR yang tidak pernah selesai ini kini kembali menjadi topik hangat di berbagai media massa nasional.

Bahkan hingga tadi pagi telah dilaporkan sebanyak 43 orang meninggal dunia akibat bencana ini. 169 titik banjir di Jabodetabek sejak 1 Januari 2019 telah membuat 397.171 orang harus mengungsi meninggalkan rumah mereka.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memiliki jurus yang berbeda dibandingkan dengan pemimpin sebelumnya, Basuki Tjahja Purnama. Anies Baswedan menggalakkan program naturalisasi dimana aliran sungai dikembalikan fungsinya dengan melakukan penghijauan dan menggeser warga yang ada di sekitar nya.

Sedangkan Basuki Tjahja Purnama atau Ahok menggalakkan normalisasi dimana aliran sungai dibebaskan dengan menggusur warga sekitar agar sungai dapat mengalir dengan baik. Meskipun berbeda taktik, namun keduanya mengklaim banjir di Jakarta telah dapat diatasi pada beberapa titik.

Namun sayangnya, akhir tahun 2019 sepertinya menjadi PR yang sangat berat bagi Anies. Jakarta tak hanya diguyur hujan deras, tapi juga mendapat kiriman banjir dari daerah lain sehingga luapan air di Jakartra semakin bertambah. Bahkan beberapa video viral bermunculan dimana beberapa mobil ikut terguling terkena hantaman banjir yang kuat.

Menurut Nirwono, pengamat tata kota Universitas Trisakti mengatakan bahwa pemerintah seharusnya mampu mengatasi banjir kiriman dari Bogor yang memperparah banjir di Jakarta.

“Program penataan bantaran kali masih terhenti akibat ketidaksepakatan atau perbedaan konsep penanganan normalisasi atau naturalisasi, serta pembebasan lahan di bantaran kali yang tidak berlanjut,” jelasnya.

“Penambahan RTH baru pun tidak signifikan yang membuat daerah resapan air tidak bertambah banyak pula. Banjir terbukti melanda Jakarta di awal tahun baru ini,” sambung Nirwono.

Sedangkan menurut pengamat tata kota lain, Yayat Supriatna, banjir di Jakarta tidak bisa hanya menyalahkan pemerintah. Warga Jakarta sendiri yang sulit untuk disiplin dalam menjaga lingkungannya menjadi salah satu penyebab banjir.

“Faktor membangun rumah tanpa didukung kelengkapan infrastruktur drainase yang bagus. Kemudian membangun rumah di bantaran sungai yang berbahaya. Jadi banyak tindakan tindakan kita yang justru mengundang bencana makin lama makin besar. Jadi bencana itu faktor manusia sangat besar pengaruhnya,” ujarnya.

Selain itu, baik normalisasi maupun naturalisasi sama-sama berujung pada pembebasan lahan sehingga aliran sungai dapat kembali berfungsi dengan baik. Maka dari itu, baik di hulu maupun hilir sebaiknya dibenahi secara bersamaan.

“Harus dilakukan bersama-sama. Sekarang yang di hulu sedang dikerjakan, diperkirakan 2020 akan selesai. Jadi kalau misalnya mana yang dahulu mana yang belakangan, dua-duanya harus bersinergi. Di hulu dijalankan, di hilir dijalankan. Jadi tidak saling menunggu,” tutupnya.