Kuliah, Kerja, Kawin (3K) Paradoks Masyarakat Indonesia, Haruskah Diikuti?

99
kuliah-kerja-kawin

Hampir seluruh lulusan SMA sederajat mengharapkan bisa melanjutkan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Tapi terkadang, ada banyak pertimbangan untuk melanjutkan pendidikan, atau memilih opsi lain. Teruntuk perempuan, tidak sedikit orangtua berbagai kalangan yang merasa pendidikan bukan ornamen penting anak gadis mereka. Toh nanti akan jadi istri orang. Toh nanti hanya bergumul di dapur.

Haduh, sayang! Bisa tolong cerdas sedikit dalam berpikir? Maaf saya agak kasar, saya juga termasuk satu dari berjuta perempuan Indonesia, yang hak pendidikannya terkurung deskriminasi gender. Jika memang biaya adalah batu sandungan terbesar untuk melanjutkan pendidikan, sayang, tahukah kamu cerdas itu tidak melulu dari bangku pendidikan formal. Yang disadari atau tidak, ijazah adalah barang mewah bagi perempuan terutama mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu.

Ada terlalu banyak sumber intelektual yang bisa digali untuk meng-upgrade intelek seorang manusia, dalam hal ini perempuan. Menjahit, memasak, bahasa asing, tapi seringnya kita menutup mata terhadap kenyataan ini.

Dalam kasus yang lumrah, mereka yang beruntung, dapat melanjutkan pendidikan mereka sesaat setelah lulus jenjang SMA. Sebagian yang tidak beruntung, tetapi masih memiliki tekad mengangkat derajat keluarga, memulai dari bekerja, dan kuliah kelas karyawan. Dan ada yang terpaksa atau secara sukarela, mengakhiri marathon pendidikannya dengan menjadi istri orang.

Menikah bukan hal yang salah, bukan hal yang tabu. Meski semakin kesini, seiring kemajuan jaman, orang-orang menganggap nikah muda hanya bentuk pelarian semata. Yang berakhir dengan perceraian akibat ketidak-siapan mental para pasangan muda.

Halo Kartini yang masih setia membaca artikel ini, jika kalian siap dan yakin untuk menikah, menikahlah. Sejatinya dicintai oleh orang yang juga kita cintai adalah suatu anugerah dari Sang Khalik. Tapi, pernahkah kalian berpikir, betapa bangganya menjadi anak dari orangtua yang berprestasi?

Mencerdaskan diri tidak hanya dengan pendidikan formal maupun lembaga kursus. Bisa melalui buku yang kita baca secara rutin, berita terkini, terbiasa mengobrol dengan pasangan mengenai hal-hal kompleks yang mungkin tidak sempat kalian pelajari karena sudah terlanjur menjadi istri orang, atau memang merasa terlambat untuk kembali memulai season baru kehidupan.

Teruntuk kalian yang sudah menjadi orangtua, atau akan menjadi orangtua. Ini opini dari seorang yang labil, dan berusaha mencapai kestabilan. Kalau biaya musuh besar pendidikan, beri anak kalian kesempatan dan semangat untuk meraih pendidikannya melalui beasiswa maupun sponsor.

Jika biaya hidup terus mengejar keluarga kalian, dan anak kalian terpaksa menghentikan sementara pendidikannya untuk bekerja. Ingatlah, mereka bukan kuda maupun sapi perah. Izinkan mereka cuti sesaat, untuk kembali melanjutkan mimpi mereka yang sempat mereka tinggalkan dulu. Jangan pasung mereka terlalu lama.

Dan kalian para suami, banggalah kalian jika memiliki istri yang rela mengorbankan masa depan dan mimpinya hanya untuk bersama dengan kalian. Oleh karenanya, beri mereka penghargaan setimpal. Kelak, jika ia ingin mengisi ‘Intellegence Tank’ mereka kembali, maka izinkanlah. Sejatinya, cerdasnya adalah bekal untuk cerdasnya anakmu kelak.

Menyambut Hari Kebangkitan Nasional, yang telah di awal oleh Hari Pendidikan Nasional beberapa pekan yang lalu, mari tengok relung hati dan batin saudara kita. Beri mereka kebebasan, baik pendidikan, maupun merajut mimpi dan asa mereka.

Salam Literasi.