Kritiklah Pemerintah dengan Argumentatif, Bukan dengan Caci Maki

20

Setiap ada permasalahan yang muncul, Presiden Joko Widodo (Jokowi) selalu yang dipersalahkan. Dianggap yang paling punya salah. Bahkan, untuk urusan yang sepele. Jokowi yang dituding jadi penyebab. Termasuk dalam isu mutakhir seperti isu pelemahan KPK. Agar publik mendapat pencerahan, kritik pada pemerintah hendaknya dilakukan dengan cara cerdas dan argumentatif.

jokowi

Menurut Direktur Poin Indonesia, Karel Haris Susetyo, bahwa Jokowi ada kelemahan, pastinya, itu hal yang wajar. Karena Jokowi bukanlah orang suci yang bebas dari kesalahan. Tapi selalu menyalahkan tanpa objektif melihat fakta, juga tak elok. Sebab harus diakui, Jokowi juga punya prestasi. Punya catatan kinerja yang layak diapresiasi. Punya bukti, ia memang pemimpin yang bekerja. Termasuk dalam membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efesien, efektif dan bebas dari pungli. Tidak terkecuali pula dalam isu revisi UU KPK. Jika memang Jokowi dianggap melenceng, silahkan kritik. Berikan argumentasi yang kuat dan cerdas.

“Intinya begini, jika memang Jokowi berhasil ya kita apresiasi. Tapi kalau di rasa ada yang kurang pas, atau ada yang melenceng, ya beri masukan. Kritik dia dengan cerdas dan argumentatif. Bukan dengan caci maki,” kata Karel saat dihubungi di Jakarta, Minggu (22/9).

Karel menambahkan, fenomena orang yang selalu menyalahkan Jokowi, diakui atau tidak itu adalah efek dari polarisasi dalam Pilpres yang belum meruap hilang. Untuk isu-isu tertentu, mereka yang tak suka pada Jokowi, akan selalu cari celah untuk menyalahkannya. Misal, dalam kasus mobil Esemka. Jokowi diserang sedemikian rupa. Pokoknya yang penting Jokowi yang salah.

“Kemudian dalam kasus Papua, Jokowi dianggap orang yang paling bersalah. Padahal masalah Papua, adalah akumulasi dari permasalahan yang terjadi di masa lalu,” kata Karel.

Lucunya lagi, untuk kasus yang sifatnya personil, Jokowi kata Karel, ikut disalahkan. Misalnya, ketika Politisi Partai Demokrat Andi Arief ditangkap polisi karena diduga mengkonsumsi sabu, Jokowi pula yang disalahkan. Dianggap gagal memberantas narkoba. Begitu juga, ketika ada kepala daerah yang kena OTT, Jokowi juga ikut disalahkan.

“Bahkan yang absurd, saat bencana terjadi, ada yang menyebarkan isu bahwa itu karena Jokowi. Jokowi dianggap penyebab terjadinya bencana. Ini kan lucu,” katanya.

Harusnya yang terus menyalahkan Jokowi, kata Karel, coba memandang setiap permasalahan yang muncul dengan jernih. Tidak didasari hanya karena tak suka Jokowi. Tapi objektif menilai. Jika Jokowi benar katakan benar. Bila salah, ungkapkan Jokowi salah. Kritik dan beri masukan secara argumentatif. ” Intinya, apresiasi bila dia berhasil. Kritik dia (Jokowi) bila memang dianggap keliru,” kata Karel.

Jokowi, kata Karel juga manusia biasa. Bukan Superman atau malaikat yang tak punya cacat. Tapi menyalahkan terus Jokowi, apalagi dengan tak didukung fakta serta argumen yang kuat, sama saja itu membenci dengan membabi buta. Lebih arif, coba untuk objektif. Meski pasti, tak bisa sempurna. Apresiasi jika memang Jokowi punya prestasi. Kritik jika memang ada kelemahan.

“Saya yakin, Jokowi bukan sosok yang anti kritik. Ia sepertinya sosok yang mau mendengar. Mau terima masukan. Termasuk siap dikritik keras. Jokowi, sudah kenyang difitnah. Di bully. Tapi Jokowi bukan sosok yang tak mau dengar pendapat orang. Ia biasa mendengarkan. Biasa dikritik. Ya asal kita tak membabi-buta saja. Karena tak suka Jokowi, apapun yang terjadi Jokowi itu salah. Sikap seperti ini juga tak benar. Kurang bijak,” katanya.