Ketika Cintaku padaMu Bertasbih

28

Setiap manusia pasti pernah merasakan sedih. Entah persoalan apapun itu, setiap manusia pasti memiliki masalah. Bahkan bisa dikatakan, bahwa hidup manusia sama dengan persoalan. Maksutnya, setiap manusia yang hidup pasti memiliki persoalan masing-masing.

Setelah berkutat dengan segala kepenatan dunia dan kesibukan yang begitu menguras waktu, tenaga, serta pikiran, ada baiknya kita tidak melupakan Allah. Mengingat Allah dalam segala kondisi membuat kita selalu tenang, berhat-hati dan insyaaAllah terhindar dari perbuatan keji.

Seseorang yang selalu mengingat Allah akan senantiasa merasa diawasi Allah. Dia akan berhati-hati dalam melakukan perbuatan karena dia juga percaya bahwa segala sesuatu yang dia lakukan kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Sebagai contoh, ketika kita terdesak keadaan dan membuat kita ingin mencuri atau bahkan menipu, semua akan terasa gelap dan kebathilan tertutup oleh kenikmatan. Astaghfirullah. Namun, ketika kita menyertakan Allah, mengingat Allah di setiap langkah kita akan sadar bahwa Allah mengetahui perbuatan kita bahkan niat kita kita yang masih tersimpan di dalam hati.

Sehingga hal itu bisa menjadi benteng untuk kita menjauhi maksiat. Kalau kata guru saya, jangan lupa membawa keimanan disetiap langkah kita.

Selain itu, mengingat Allah atau yang bisa disebut dengan zikir ini memiliki keutamaan, seperti firman Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 45:

“Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya)”

Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

“Maukah aku kabari kalian suatu amal yang paling baik dan paling suci di sisi Tuhan kalian, yang paling meninggikan derajat kalian di sisiNya?”.”Tentu saja,” jawab para sahabat. Beliau lalu berkata “ Zikrullah (mengingat Allah).”(HR. Ahmad, at-tirmidzi dan Ibn Majah)

Terkait dengan hadist tersebut, Syaikh Zakaria al-Kandahlawi dalam Fadha’il al-A’mal, menjelaskanbahwa keutamaan zikir ini berdasrkan keadaan umum. Sebab, dalam keadaan tertentu, jihad, sedekah, dan sebagaimana dipandang lebih utama.

Para ulama membagi zikir dalam tiga golongan. Pertama, zikir dengan lisan. Yaitu dengan memperbanyak melafalkan kalimat thayyibah, seperti istighfar, tasbih, tahmid, dll. Kedua, zikir dengan kalbu. Yaitu dengan tafakkur (merenung), muraqabah (merenung), dan muhasabah (intropeksi diri).

Serta yang ketiga, zikir dengan perbuatan. Inilah zikir yang paling utama. Zikir dengan perbuatan ini diwujudkan dalam bentuk mengikatkan tindakan dan ucapan pada hukum-hukum Allah. Atau dengan kata lain dengan mengamalkan hukum-hukum Allah yang telah dipahami.

Semoga kita semua termasuk golongan yang senantiasa mengingat Allah atau golongan yang selalu berzikir pada Allah di tengah-tengah gemerlap dunia yang semakin menyilaukan mata. Padahal kenikmatan dunia dibanding akhirat bagaikan jari telunjuk dicelupkan ke dalam lautan lalu jari telunjuk tersebut diangkat lagi. Air yang menempel di telunjuk itulah kenikmatan dunia sedangkan air di lautan itulah akhirat.