Keputusan KPU Berujung Bentrokan di Jakarta Pusat

11
ricuh-di-bawaslu

Keputusan KPU mengenai pemenang dari pemilihan presiden 2019 yang diumumkan pada pukul 2 pagi hari Selasa, 21 Mei 2019 semalam berujung bentrokan. Sejak dikeluarkannya pengumuman yang tiba-tiba tersebut, reaksi dari masyarakat pun bermunculan. Massa yang berasal dari pendukung paslon nomor urut 02 merasa KPU tidak amanah dan tidak adil dalam memutuskan hasil pilpres sehingga mereka akhirnya turun ke jalan sebagai aksi protes.

Aksi unjuk rasa pun dilakukan di depan Bawaslu di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Awalnya aksi yang berlangsung damai tersebut aman-aman saja, namun suasana pun semakin memanas. Tidak diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab bentrokan ini, namun bentrokan ini dimulai setelah mediasi yang dilakukan pihak kepolisian dengan masyarakat menemukan jalan buntu.

Bentrokan semakin memanas pada pukul 00.30 WIB. Awalnya massa dipukul mundur dengan menggunakan gas air mata dan tembakan air, namun sayangnya massa tak kunjung membubarkan diri. Beberapa orang yang dianggap provokator pun diamankan oleh pihak kepolisian. Namun pengamanan ini justru semakin membuat massa kembali maju dan menuntut pembebasan rekannya.

Akibatnya, bentrokan kembali berlanjut. Pihak kepolisian tidak lagi menembakkan gas air mata dan air, tapi beberapa peluru mulai didesingkan. Beberapa rekaman adanya korban yang meninggal dari pihak massa pun banyak beredar di media sosial. Aksi kejar-kejaran pihak kepolisian dengan masyarakat juga masih terus berlangsung bahkan hingga hari ini.

Tak hanya terjadi di kawasan Thamrin saja, bentrokan juga terjadi di Jalan Sabang, Wahid Hasyim, bahkan hingga masuk ke dalam gang-gang yang berada di sekitar kawasan tersebut. Meskipun suasana mulai agak kondusif di depan kantor Bawaslu, namun beberapa media berita masih memperlihatkan aksi bentrokan yang masih terjadi di gang-gang kecil sekitarnya.

Hingga saat ini, pihak kepolisian belum memberikan konfirmasi mengenai pemicu terjadinya bentrokan. Namun beberapa warga mengatakan bahwa bentrokan terjadi akibat aksi sweeping yang dilakukan oleh pihak kepolisian akibat bentrokan di lokasi lainnya. Akibatnya warga sekitar merasa terganggu dan marah pada tindakan yang dianggap semena-mena ini.