Kelakuan Rezim Assad Semakin Menjadi, Dunia Internasional Diam

13

Sudah 7 minggu pasukan rezim Assad melakukan berbagai serangan secara intensif di wilayah Idlib, Suriah utara. Rezim yang didukung oleh Rusia ini menghancurkan berbagai fasilitas umum dan rumah-rumah warga. Mereka menghancurkan pasar, rumah sakit, sekolah dan berbagai infrastruktur lainnya. Menurut para warga, pengamat Internasional serta pemerhati HAM, aksi ini dilakukan tanpa henti sebagai salah satu taktik untuk menekan penduduk lokal sehingga mereka mau mengungsi.

Salah satu penduduk yang harus mengungsi ialah Abdurrahim, Abdurrahim harus meninggalkan tanah kelahirannya untuk mengungsi bersama keluarganya ke desa terdekat. Abdurrahim mengatakan ketika pesawat tempur melintas diatas rumahnya, putrinya yang masih berusia 18 bulan akan berlari memeluk dirinya karena ketakutan dan panik.

Abdurrahim yang menyembunyikan nama belakangnya tersebut mengatakan bahwa dirinya menolak untuk meninggalkan tempat asalnya selama bertahun-tahun belakangan. Namun karena serangan yang terus dilakukan oleh rezim Assad membuat dirinya harus mengungsi. Faktor keamanan dan keselamatan menjadi alasan utamanya, terlebih dirinya masih memiliki putri yang masih kecil.

” Saya tidak bisa melihat ekspresi wajah anak saya, ekspresi takut dan sedih membuat saya benar-benar hancur” ucap pria berumur 25 tahun ini yang merujuk pada putri semata wayangnya.

Salah satu kejadian yang membuat tekad Abdurrahim tinggal dikampung halamannya pupus ialah serangan udara yang terjadi pada 30 Mei lalu. Serangan ini menghancurkan rumah tetangganya dan menewaskan 3 orang anak-anak, salah satu anak tersebut memiliki umur yang sama dengan putri Abdurrahim. Setelah kejadian itu, Abdurrahim dan keluarganya memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya untuk dapat bertahan hidup.

Kejadian yang terjadi di Idlib adalah cara baru yang digunakan oleh pasukan rezim suriah. Dengan bantuan rusia mereka berhasil merebut kota-kota strategis serta memantapkan kedudukan mereka. Idlib sendiri adalah kantor terakhir oposisi. Pada sebelum perang terjadi penduduk di wilayah ini hanya sebanyak 1.5 juta jiwa, angka ini melonjak menjadi 3 juta jiwa dikarenakan banyaknya pengungsi yang datang ke Idlib setelah wilayah ini ditetapkan sebagai zona de-eskalasi.

Para pengamat Internasional menilai rezim Suriah ini terus melakukan penyerangan kepada warga sipil, menghancurkan rumah-rumah warga serta fasilitas umum lainnya karena dunia Internasional seakan menutup mata atas bencana kemanusian yang sedang terjadi.

Menurut Misty Buswell selaku direktur advokasi Timur tengah untuk International Rescue Commitee, setiap perang mempunyai aturan. Dalam perang yang terjadi di Idlib terjadi pelanggaran karena menyerang warga sipil dan menghancurkan berbagai rumah sakit.

Akibat peperangan ini banyak toko-toko dipasar yang dihancurkan sehingga mereka tidak bisa beroperasi. Rezim melakukan penyerangan ini untuk menghentikan segala pelayanan kepada warga sipil dan memberikan tekanan kepada warga sipil sehingga mereka menyerah.

Setidaknya 32 rumah sakit dan berbagai fasilitas kesehatan lainnya tidak berfungsi karena bom, atau karena pihak rumah sakit takut diserang. Serangan ini memakan lebih dari 300 korban jiwa. Pada bulan April 61 anak-anak meninggal dan angka ini meningkat pada bulan Mei, ada 75 anak yang tewas akibat perang ini.

Akibatnya lebih dari 300.000 jiwa mengungsi dalam dua bulan terakhir dan 200.000 diantara mereka harus tinggal ditempat terbuka.