Kehabisan Hoki, Samsung Akhirnya Tutup Pabrik Terakhir di Cina

50

Kekalahan vendor asal Korea, Samsung di Negeri Tirai Bambu membuat perusahaan ini harus kembali menutup pabrik terakhirnya di Cina. Penutupan pabrik di Huizhou, Guangdong ini merupakan langkah lanjutan dari penutupan pabrik di Tianjin.

Penutupan pabrik Samsung yang terakhir ini akibat dari anjloknya laba Juli hingga September 2019 hingga 56% atau hanya mendapat 7,7 triliun won. Dengan tutupnya pabrik Samsung ini, maka dampaknya tentu akan menyebabkan dirumahkannya para pekerja. Meskipun laba yang didapat anjlok hingga menyebabkan tutupnya pabrik, Samsung tetap mengapresiasi kerja keras para pekerja.

Terbukti, para pekerja yang telah bekerja selama 10 tahun lebih diberikan uang pensiun, jam tangan dan Samsung Galaxy S10+. Sedangkan yang lain diberikan Samsung Galaxy A80 dan kompensasi. Dengan begini, pekerja tidak akan merasa dirugikan dan justru menerima dengan lapang dada pada keputusan pahit ini.

“Samsung menutup pabriknya di Huizhou. Saudara perempuan saya telah bekerja lebih dari 10 tahun di sana, dia menerima pensiun dan kompensasi. Serta sebuah perangkat Galaxy S10+ dan jam tangan,” cuit salah seorang pengguna Twitter setelah pabrik ditutup.

Tenggelamnya bisnis Samsung di Cina sendiri diakibatkan kerasnya persaingan usaha disana. Bahkan pada kuartal II-2019, jumlah pasar yang dikuasai oleh Samsung di Cina tidak sampai 1%. Hal ini membuat Samsung kehilangan banyak hal baik laba bahkan popularitas di Negeri Panda tersebut.

Meskipun melakukan penutupan pabrik, namun laba yang dicatat oleh Samsung tidak terlalu buruk dari perkiraaan. Menurut seorang Analis di Cape Investment & Securities, Park Sungsoon, Samsung saat ini masih diuntungkan dengan adanya aturan larangan terhadap Huawei oleh Amerika Serikat.

Bentrokan dagang antara Amerika Serikat dengan Cina ini memberikan sedikit keuntungan pada Samsung. “Samsung diuntungkan oleh sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Huawei, yang secara efektif melarang perusahaan AS memasok komponen ke perusahaan China itu,” jelas Sungsoon.

Dengan adanya larangan ini, Samsung berhasil menjual lebih dari 1 juta gawai 5G di Korea. Sedangkan Huawei baru saja akan dirilis pada bulan ini di Eropa. Hal ini membuat Samsung lebih unggul satu langkah di depan daripada Huawei.

Meskipun diuntungkan, pada kenyataannya Samsung juga dirugikan lantaran ini. Pemasok laba yang besar untuk Samsung sebenarnya adalah pasar chip memori. Huawei adalah pembeli utama dari chip memori milik Samsung. Dengan menurunnya jumlah permintaan dari Huawei tentu akan berdampak pada pemasukan Samsung yang mana hanya mencatat laba sebesar 62 triliun won pada kuartal ketiga. Jumlah ini menurun sekitar 6,3%.