Kasus Ujaran Kebencian Membuat Ahmad Dhani Dituntut Dua Tahun Penjara, Ini Pasal yang Menjeratnya!

10

Ahmad dhani, seorang musisi dan mantan suami dari Maia estianty ini baru saja menjalani sidang ujaran kebencian di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, tepatnya pada hari Senin (26/11/2018). Pada sidang kali ini, agendanya yaitu pembacaan tuntutan dari pihak Jaksa Penuntut Umum yang akan dibacakan, karena sempat tertunda beberapa saat yang lalu.

“Berdasarkan uraian di atas kami Jaksa Penuntut Umum menuntut Majelis Hakim yang memutuskan perkara ini menyatakan terdakwa terbukti secara sah menimbulkan kebencian terhadap suatu golongan. Dan menjatuhkan pidana dua tahun kepada terdakwa,” ujar Jaksa Dwiyanti di ruang persidangan.

Setelah dibacakannya tuntutan tersebut, Ahmad Dhani terlihat menunduk dan terdiam. Jaksa membuat surat tuntutan karena sudah menjadi hal yang memberatkan, karena meresahkan masyarakat. Dan hal yang meringankannya pun tidak ada.

Ahmad Dhani saat mengikuti persidangan yang menjeratnya terkait ujaran kebencian.

Kasus yang menimpa Ahmad Dhani Prasetyo ini bermula saat ia berkicau melalui akun Twitter pribadinya @AHMADDHANIPRAST, yang diketahui bahwa isinya menghasut dan penuh kebencian terhadap para pendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Selain itu, Dhani juga diketahui kerap kali menuliskan pernyataan sarkastik pada akun Twitter-nya.  Dan hal ini terjadi pada bulan Februari dan Maret tahun 2017. Salah satunya yaitu : “Siapa saja yang dukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi mukanya – ADP”.

Ahmad Dhani memberikan penjelasan bahwa twit tersebut bukan ditulis olehnya, melainkan ditulis oleh Fahrul Fauzi Putra yang merupakan timses Ahmad Dhani di Pilkada Kabupaten Bekasi.

Fahrul Fauzi Putra diberi kewenangan untuk memegang handphone milik Ahmad Dhani Prasetyo tersebut. Dan twit lainnya yang memberatkan juga ditulis oleh relawan lainnya yang diberi kewenangan untuk memegang handphone miliknya tersebut.

Kemudian,Dhani dan kedua relawannya tersebut mengirimkan kalimat untuk di unggah ke akun Twitter @AHMADDHANIPRAST kepada sang pemegang akun Twitter Ahmad Dhani, yaitu Suryopratomo Bimo

Ahmad Dhani saat dimintai keterangan.

Ahmad Dhani mendatangkan beberapa saksi untuk meringankan kasusnya, tetapi ternyata tim jaksa penuntut umum juga lebih dulu mendatangkan beberapa saksi yang akan memberatkan terdakwa.

Jaksa penuntut umum menghadirkan Jack Lapian, Danick Danoko, Retno Hendri Astuti, Natalia Dwi Lestari, Togas Harahap, Syawal, Suryopratomo Bimo, Wardoyo dan Memet Indrawan. Tetapi selain itu, jaksa juga mendatangkan saksi Ahli Hukum Pidana Effendy Saragih dan saksi Ahli ITE Digital Forensik yaitu Saji Purwanto.

Ujaran kebencian yang dilakukan oleh Ahmad Dhani Prasetyo tersebut dilaporkan oleh Jack Lapian yang merupakan seorang pendiri BTP Networks. Atas kasus yang menimpanya, Ahmad Dhani dijerat oleh pasal 45 huruf A ayat 2 junto 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 Junto UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE junto Pasal 55 ayat 1 KUHP.

Dalam tuntutan tersebut, Jaksa yang menangani kasus ini meminta hakim menyita barang bukti yang berupa satu telepon seluler beserta simcard, Akun Twitter @AHMADDHANIPRAST beserta email dan ini untuk dimusnahkan, selain itu ada bukti berupa satu buah flash disk yang berisis screenshoot twit akun Twitter Ahmad Dhani.

Dalam KUHP, memang perbuatan pidana tersebut bisa dijerat dengan pasal provokasi dan hasutan, tetapi ternyata ada undang-undang lain yang secara spesifik mengaturnya. Misalnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan lain sebagainya.

Biasanya, bagi setiap individu yang melanggar aturan ini akan dikenakan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banya Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah).