Kapitalisasi Pendidikan Bermotif Syiar Islam

196

Belakangan ini kerap kali menjumpai institusi pendidikan yang dialihfungsikan menjadi sarana bisnis, perguruan tinggi yang sengaja mengkonstruk mahasiswanya menjadi calon-calon buruh. Bahkan pendidikan yang diterapkan menggunakan teori jual beli, hingga buka cabang di luar kampus induk, dengan dalih perluasan medan dakwah, alibi yang cukup religious. Ghiroh keilmuan yang tertimbun matrealisme belaka, masyarakat yang buta wacana justru menyambut dengan sumringah dan menjadi angin segar yang membelai, tenang, mematikan. Namun masyarakat awam tidak bisa disalahkan disini, akan tetapi dari kaum intelektualnya yang cukup bengis, mengkomersilkan pendidikan atas nama jihad, lalu kebodohan macam apalagi ini?!

Justru embel-embel intelektualnya di sini yang perlu dipertimbangkan lagi, harusnya dengan cara yang elegan dan bermutu jika memang murni untuk mencetak generasi penerus bangsa, para mahasiswa cendekiawan dunia. Akan tetapi lagi-lagi kapasitas yang premature dan otak bisnis yang terlanjur jadi arah pikir tujuannya. Begitu seterusnya rantai kebodohan dan lingkaran setan yang dibangun tidak akan terputus. Dari awal stimulus yang diberikan cukup jelas dan iming-iming yang ditawarkan cukup imajinatif bagi seorang mahasiswa, “lulus kuliah jadi pegawai, kerja mapan, hidup sukses”. Seolah mekanik yang sudah sistematis, padahal jika kita mau berpikir lebih keras, kampus bukanlah tempat orang lapar, jika hanya mentok pada urusan perut.

Satu contoh perguruan tinggi di Jawa Timur, ada satu dosen tiap kali masuk kelas ia rijit menyampaikan perkuliahan hari itu, dengan gaya bahasa serta gerakan-gerakan yang khas, sangat ekspresif. Namun sangat disayangkan ia cukup pragmatis. Di penghujung jam perkuliahan ia tak lupa memberikan tutorial berbisnis, bagaimana cara jualan, bagaimana cara berkebun, bagaimana cara ternak lele, segala sesuatu yang menghasilkan duit, dan yang terpenting bagaimana bisa bertahan hidup di tengah kerasnya perekonomian saat ini yang tengah mencekik. Kampus adalah tempat orang-orang haus ilmu, orang-orang bodoh yang berniat pintar, ingin cerdas. Jadi mencetak buruh atau pegawai bukan di kampus namun di tempat kursus, begitu hemat penulis.

Tidak banyak mahasiswa yang mampu memaknai kuliah secara komprehensif, mayoritas hanya untuk memenuhi syahwat materi, urusan perut yang menjadi prioritas nomor satu. Tanpa memikirkan bagaimana kondisi lingkungan yang masih gelap akan keilmuan, nilai kemanusiaan nya makin kesini makin tergradasi habis. Bagaimana tetangga yang masih kesulitan mencari makan, dan kaum kecil yang sulit mengenyam pendidikan, sama sekali tidak terfikirkan. Berangkat dari keresahan penulis di lingkungan kampus tempat meraup ilmu pun banyak sekali mahasiswa yang banal, melakonkan diri seolah pemain sinetron, kuliah, pacaran, jalan-jalan, pulang. Begitu setiap hari, tanpa mau baca buku dan berdiskusi, tanpa mau menambal ketidaktahuannya. Bahkan tidak berfikir biaya kuliah sangatlah mahal.

Mahasiswa era modern cukup nyaman dan termakan dogma dosen yang terlanjur mengakar, namun pada akhirnya tidak jadi apa-apa karena cukup ambisius dengan apa yang ia ingini namun lupa memupuk nutrisi otak yang mestinya dipenuhi. Atau bahkan bermuka dua menjilat penguasa demi jabatan semata, sampai akhirnya idealisme mahasiswa hanya tinggal kata keropos makna, tergadaikan begitu saja. Mahasiswa mental budak, kenyang akan dogma kering akan nalar.

Menu yang dirasa cukup solutif untuk ditawarkan adalah bagaimana peran dosen yang seharusnya benar-benar punya jiwa pengajar, pendidik yang mampu mentransformasikan kapasitas ilmunya kepada mahasiswa guna diserap kembali untuk di implementasikan pada kehidupan nyata selepas kuliah. Rekonstruksi nalar dosen sangat perlu di sini, agar nantinya kampus mempunyai daya tawar yang sangat kompeten dan berkelas. Bukan lagi untuk mencetak buruh namun mencetak pemikir dan para ilmuwan cemerlang penerus peradaban. Begitu pula mahasiswanya mustinya memaknai kuliah bukan seperti di sinetron, akan tetapi berpikirlah yang visioner jauh kedepan, bayangkan sepuluh atau dua puluh tahun kedepan di mana posisi kita, bagaimana keadaan bangsa dan apa yang dibutuhkan dunia. Dari situ cukup untuk bergerak dan berfikir apa yang harusnya di lakukan ketika menjadi mahasiswa saat ini.