Kala Itu Di Bawah Pohon

125

      Kala itu, siang hari. Aku selalu pergi ke ladang rumput. Ke tempat rahasiaku, aku bermain seorang diri. Tempat aku membaca buku sambil berayun yang terikat kuat di dahan pohon rindang, tumbuh sebatang yang melindungiku dari terik matahari. Aku  sedang membaca buku. Terdengar suara burung bertengger di dahan pohon. Aku menoleh ke atas. Melihat seekor burung memberi makan anaknya. Tiba-tiba, induk burung pergi dari sarangnya. Lalu, seekor anak burung yang masih kecil dan belum di tumbuhi bulu. Keluar dari sangkarnya dan terjatuh di dahan pohon yang dekat dengan sangkar. Tapi, tak lama kemudian. Anak burung itu. Akhirnya, terjatuh. Aku segera bergegas menangkap anak burung sebelum terjatuh ke tanah. Aku berhasil menangkap anak burung itu dengan mengorbankan tubuhku tersungkur ke tanah. Lalu, aku bangkit dan tersenyum melihat anak burung itu baik-baik saja.

            Aku memasukkan anak burung itu ke saku bajuku sebelah kanan. Lalu, memanjat pohon untuk mengembalikannya ke sangkarnya. Induknya pasti mencarinya jika aku membiarkan anak burung itu mati terjatuh. Induknya pasti menangis. Meski, aku tidak mengerti bahasa hewan. Tapi, satu hal yang aku tahu. Hewan menyayangi anak-anaknya. Terbukti dari induk burung yang masih mencari makanan untuk anaknya.

            Setelah, aku berhasil naik ke atas dahan pohon. Tempat sangkar burung tersebut. Aku segera meletakkan anak burung tersebut bersama anak burung lainnya. Jumlah anak burung dalam sangkar ini ada tiga ekor. Anak burung tersebut sangat lucu dan imut. Semoga anak burung tersebut cepat tumbuh besar dan menghiasi langit saat mereka terbang.

            Ketika aku masih mengagumi anak burung. Aku teralihkan dengan seorang anak laki-laki yang berlari cepat ke arah pohon. Dia melepaskan tasnya secepat mungkin. Lalu dia mengeluarkan isi tasnya dengan tergesa-gesa. Aku penasaran dengan apa yang dia lakukan di tempat rahasiaku. Kenapa dia bisa tahu tempat rahasiaku. Lalu, aku melihat dia mengeluarkan seekor burung dari dalam tas. Burung tersebut sepertinya sudah mati. Mungkin karena tidak ada oksigen di dalam tasnya. Laki-laki itu menangis melihat burung itu mati. Dia telah kehilangan hingga dia berteriak keras. Sampai membuat aku terkejut dan hampir saja terjatuh dari atas pohon.

            Anak laki-laki itu, menggali tanah sedalam mungkin untuk menguburkan jasad burung tersebut. Setelah itu, kulihat dia duduk diatas ayunanku. Aku ingin sekali berteriak agar dia tidak duduk diayunanku. Tapi, aku urungkan. Karena aku melihat dia sedang melamun, memikirkan sesuatu. Melihat dia yang sedang melamun membuat hatiku iba melihatnya. Wajahnya menunjukkan kesedihan. Lalu,kulihat tangannya mengambil sesuatu dari tumpukkan bukunya yang berserakan saat dia mengeluarkan isi tasnya tadi. Ternyata yang dia ambil barusan adalah secarik kertas yang bertulisan “Pecundang”. Dia meremas kertas tersebut. Dia tampak marah membaca itu.

            Tiba-tiba, anak laki-laki itu mengambil tali goyang yang tak jauh dari buku yang berserakan. Dia mengikat tali goyang pada dahan pohon tempat  tali ayunan di ikat. Aku menduga, anak laki-laki itu ingin bunuh diri. Aku tak bisa membiarkan dia melakukan itu. Aku segera turun. Sebelum anak laki-laki itu gantung diri. Aku segera berlari cepat setelah berhasil turun dari pohon. Aku segera mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi yang telah sempat dia gantungkan dirinya sendiri.

             Dia merontak, meminta untuk dilepaskan. Tapi, aku menolak. Aku tetap mengangkat tubuhnya meski badanku kecil. Aku tak bisa biarkan seseorang mati konyol di depan mataku sendiri.

            “Aku mohon jangan lakukan itu.” Pintaku memohon padanya. Aku berharap dia mau mendengarkanku.

            “Untuk apa kamu mencegahku.” Tanyanya terdengar putus asa.

            “Karena kamu tak pantas mati. Masa depanmu masih panjang. Kamu harus ingat orang tuamu.” kataku menyakin dirinya. Lalu, ku lihat dia menangis. Kulihat dia melepas ikatan tali goyang pada lehernya. Baru kemudian aku menurunkannya. Dia berdiri di depanku. Tinggi kami sama. Kemudian aku segera memelukknya dan mengucapkan terima kasih padanya. Karena tidak jadi bunuh diri. Anak laki-laki itu terkejut akan sikapku. Apalagi saat aku mengucapkan terima kasih. Aku bercerita kepadanya, kenapa aku mengucapkan itu. Karena aku senang dia mendengarkanku.

            Lalu, kami berdua berkenalan. Namanya Rohan dan namaku Angel. Rohan bertanya kepadaku, kenapa aku bisa disini sebab tak ada satu orang pun yang tahu tempat ini. Aku pun bercerita kalo tempat ini adalah tempat favoritku yang selalu aku kunjungi setiap pulang sekolah.  Ternyata, bukan cuma aku saja yang menjadikan tempat ini tempat favorit. Rohan juga, tapi kami berdua jarang bertemu. Ini pertama kalinya. Rohan pun tahu siapa yang membuat ayunan di pohon ini, yaitu aku.

            Singkat cerita, aku dan Rohan berteman baik. Aku dan dia selalu menghabiskan waktu bersama. Kami suka membaca buku, bernyanyi, berayunan yang kini menjadi dua. Satu untukku dan satu untuknya. Main kejar-kejaran di pandang rumput. Aku senang dapat berteman dengan Rohan. Apalagi wajah Rohan tampak ceria sejak berteman denganku. Berbeda sekali waktu pertama kali bertemu. Dimana Rohan  memilih menjauh dariku saat aku menawarkan diri menjadi temannya.

             Ada alasan kenapa Rohan menolak aku sebagai teman. Karena dia mempunyai kisah yang kelam. Kisah yang menjadi penyebab dia untuk mengakhiri hidupnya.

             Ternyata, Rohan merupakan korban bully di sekolahnya. Dia sering dibully oleh teman-temannya dan menyebut dirinya “Pecundang”. Tak tahan menerima hinaan dari teman-temannya. Hingga Rohan memutuskan bunuh diri. Beruntung saat itu, aku ada dan mencegahnya dan kini kami berdua bisa menjadi teman.

            Meski kami berdua berteman dan aku berhasil membuat Rohan tersenyum. Aku belum bisa melihat keceriannya jika aku bercerita tentang kegiatanku di sekolah. Rohan bungkam jika aku bertanya, bagaimana keadaannya di sekolah. Diamnya Rohan menunjukkan Rohan masih di bully.

            “Rohan.” Panggilku. Saat ini kami berdua sedang tiduran di atas rumput sambil membaca buku.

            “Apa.” Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

            “Aku akan pindah sekolah.” kataku. Roham terdiam melihatku. Bibirnya tertutup rapat dan tidak mengatakan sesuatu kepadaku. Dia hanya memasang wajah tersenyum kepadaku. Lalu, pergi pamit pulang.

            Melihat dia pergi dari hadapanku. Aku tebak Rohan pasti sedih mendengar itu dan tak sanggup berkata kepadaku. Padahal, aku berharap dia bertanya kepadaku. Kemana aku pindah sekolah.

            ***

            Aku berdiri menatap gedung sekolah baruku. Hari ini akan menjadi hari pertamaku menjadi murid baru. Murid baru disekolah yang jaraknya dekat dengan rumahku. Aku berjalan menuju ruang guru dan menyelesaikan urusan adminitrasi. Setelah itu, seorang guru yang merupakan wali kelasku mengantarkan aku ke kelasku. Aku masuk ke kelas 10 IPS III. Guru memintaku memperkenalkan diri. Saat aku memperkenalkan diriku, mataku tak sengaja bertemu dengan mata Rohan yang terkejut melihatku. Lalu, aku memilih duduk disampingnya. Meski ada beberapa murid menawarkan kursi untukku. Tapi, aku memilih di dekat Rohan karena kebetulan bangku sebelah Rohan memang kosong. Aku duduk dan tak lupa menyapanya. Rohan masih menatapku diam seperti tak percaya melihat aku duduk di sampingnya dan satu sekolah dengannya.

            Setelah itu, wali kelasku keluar kelas dan meminta kami semua diam sambil menunggu guru yang akan mengajar. Tak lama berselang wali kelas keluar dari kelas. Seorang anak laki-laki bernama Leo yang kutahu dari bet namanya. Datang menghampiriku dan memintaku untuk tidak duduk di samping Rohan. Aku melihat Rohan menundukkan kepalanya. Rohan sepertinya takut kepada Leo.

            “Emangnya, kamu siapa memintaku pindah tempat duduk?” Tanyaku pada Leo yang terdiam mendengar aku berkata seperti itu. Rohan menatapku dan aku tersenyum kepadanya.

            “Aku hanya ingin menyelamatkan kamu dari seorang pecundang.” Katanya menatap tajam ke arah Rohan.

            Aku tertawa mendengarnya. Dia seenaknya menghina Rohan tanpa mengenal Rohan.

            “Emangnya kamu kenal dengan Rohan?” Dia terdiam kembali. Kini semua murid menatap ke arah kami.

            “Kamu tidak tahu apa-apa tentang Rohan. Jadi, jangan menyebut dirinya pecundang.” Tegasku.

            “Bagaimana denganmu. Apa kamu mengenal Rohan dan berteman dengannya?” tanya Leo dan aku tersenyum. Aku mengangguk padanya dan semua murid di dalam kelas terkejut.  Melihat aku berteman dengan Rohan yang selama ini mereka anggap pecundang. Lalu, Leo kembali ke kursinya setelah guru yang akan mengajar masuk ke dalam kelas.

            Di saat guru sedang membacakan mata pelajaran yang sedang berlangsung. Rohan menulis sesuatu kepadaku. Dia bertanya, kenapa kamu bisa sekolah di sini? Lalu, aku mengambil kertas yang dia tulis kepadaku. Aku menulis, karena aku ingin berteman denganmu. Dia kembali menulis, bukankah kita sudah berteman. Aku tersenyum kepadanya. Aku menulis, di sekolah belum. Setelah membaca itu, Rohan tersenyum kepadaku. Senyum yang dia tunjukkan senang berteman dengan diriku. Dia tidak bertanya lebih lanjut alasanku yang sebenarnya. Tapi, aku tetap memberitahukan kepadanya.

            “Aku pindah karena aku ingin dekat denganmu. Meski, itu terdengar konyol. Tapi, itu adalah alasanku.”

            Roham diam menatapku. Aku tahu dia pasti terkejut. Aku memintanya. Tak perlu memikirkan perkataanku barusan. Dia cukup tahu dan berteman seperti biasa kepadaku. Sebagaimana kami sering menghabiskan waktu bersama di pohon rindang di pandang rumput.

            Di sekolah banyak yang menganggapaku aneh. Karena berteman dengan Rohan yang terkenal pecundang di sekolah. Tapi, aku tidak mempedulikan itu. Meski, Rohan sering memintaku untuk tidak dekat dengannya. Karena Rohan tidak ingin, aku menjadi korban Leo cs. Tapi, aku tidak takut pada Leo. Aku harus menunjukkan pada Leo, dia tidak berhak membully siapapun. Aku selalu berani membalas perbuatannya kepadaku. Bahkan, aku tak segan melaporkan perbuatannya pada guru.

            Tindakanku membuahkan hasil. Leo tidak lagi membully yang lemah lagi. Termasuk, Rohan sejak aku menunjukkan sikap beraniku. Rohan mulai menunjukkan sikap beraninya. Rohan tidak diam lagi jika ada yang menyebutnya pecundang. Dia berani melawan mereka yang ingin membullynya. Tak hanya Rohan yang berubah. Semua murid yang pernah korban bully juga menunjukkan keberanian mereka.

            “Terima kasih.” kata Rohan padaku saat kami berdua sampai di tempat favorit kami berdua. Di bawah pohon rindang di tengah padang rumput.

            “Untuk apa?” tanyaku bingung.

            “Karena telah menjadi temanku. Aku pun sudah tahu alasan sebenarnya kamu satu sekolah denganku.”

            Aku tersenyum kepadanya. “Bukankah aku sudah menceritakannya sejak awal.” Kataku duduk di ayunan.

            “Iya, tapi itu bukan alasanmu yang sebenarnya.” Aku terdiam. “Kamu pindah karena ingin menghentikan tindakan bully terhadap diriku.” Lanjutnya. Aku masih diam.

            “Apa aku benar, Angel?” aku mengangguk tersenyum kepadanya. Dia benar.

            “Kenapa kamu ingin melakukan itu?” tanyanya. Aku terdiam untuk sesaat menatap Rohan. Apa ini saatnya, aku berkata jujur padanya. Ya, sepertinya iya. Rohan sangat ingin tahu jawabanku.

            “Karena aku menyukaimu.” kulihat Rohan terkejut mendengar pengakuanku. Lalu, beberapa detik kemudian Rohan tersenyum kepadaku. Dia berdiri di depanku. Menarikku dari ayunan hingga aku berdiri di depannya. Kini kami berdua berdiri saling hadap-hadapan. Dia mengenggam kedua tanganku. Lalu dia berkata,

             “Aku juga menyukaimu”. Aku tersenyum mendengar itu. Perasaanku terbalas di tempat favorit kami berdua di pertemuan pertama kali.

Tamat.