Jika Belajar untuk Ijazah, Maka Hal Ini Patut Direnungkan

23

“Alangkah sejuknya di hati dengan engkau mengatakan hal-hal yang tidak engkau ketahui lalu kau mengatakan, “Allah yang lebih tahu”. (Ali bin Abi Thalib). Diantara ciri ikhlashnya ahli ilmu adalah mengatakan tidak tahu terhadap sesuatu perkara yang ia sendiri tidak mengetahuinya. Dari pada memberikan jawaban dan informasi yang tidak diketahui benar atau salahnya.

Orang pandai bukanlah mereka yang mampu menjawab segala bentuk persoalan, tetapi orang yang pandai itu menjawab persoalan sesuai kapasitas dan kemampuannya dengan bidang ilmu yang ia kuasai. Karena ia menyadari setiap jawaban akan dipertanggung jawabkan.

Orang pintar tidak perlu mempertontonkan kepintarannya, kerena berlian akan menampakkan sinarnya juga walaupun ditutup dengan balutan kain hitam yang pekat.

Sedangkan si jahil (bodoh) tetaplah menjadi bodoh walaupun berlagak pintar dengan menjawab dan mengomentari segala hal yang bukan bidang keahliannya. Kita harusnya malu dengan Imam Malik yang suatu ketika ditanya sebanyak 40 pertanyaan, lalu beliau menjawab, “Saya tidak tahu.”

Pencari ilmu yang ikhlas tidak ingin dianggap pintar padahal ia bodoh. Ia tak ingin dilihat lebih sholeh. Dia hanya ingin dilihat apa adanya, bukan ada apanya.

Niatkanlah menuntut ilmu agar bisa beribadah kepada Allah dengan kualitas terbaik. Dan bertambah takut kita kepada-Nya. Jangan sampai kita mencari ilmu untuk sekedar lembaran ijazah dan gelar. Jangan sampai ilmu yang ada pada diri kita hanya tajam untuk mendebat orang-orang bodoh lantas kita berbangga diri. Rocky Gerung pernah mengatakan, “Ijazah hanya tanda orang pernah sekolah bukan tanda ia berfikir”.