Internet Lemot Saat Demonstrasi Murni Lonjakkan Traffic

7

Operator seluler membantah sudah membatasi akses internet di lokasi mahasiswa yang berunjuk rasa menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) dan Undang-Undang Pemasyarakatan pada hari Selasa (24/9/2019).

Kecurigaan ini muncul dari pengakuan orang-orang yang berada di sekitaran senayan. Mereka mengeluhkan lemotnya akses internet yang bertepatan dengan kegiatan aksi tersebut. Apalagi kegiatan penyampaian pendapat tersebut berujung kericuhan.

Banyak pengguna layanan Twitter sempat tidak bisa mengakses akun mereka pada siang kemarin (24/9), di mana itu terjadi bertepatan dengan demo mahasiswa di depan gedung DPR-RI. Pihak Twitter pun merasa perlu memberikan penjelasannya.

Seperi dilansir dari detikcom, melalui keterangan tertulis, twitter telah melakukan penyelidikan mengenai sebab bermasalahnya akses pada platform mereka.

Berdasarkan hasilnya, twitter memberikan konfirmasi. Gangguan akses yang dialami sebagian besar pengguna di Indonesia kemarin (24/9) bukan berasal dari masalah layanan dan jaringan backend mereka.

Keluhan netizen ini juga dialami oleh Ernest Prakasa. Bahkan sampai menuding Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai dalangnya. Apalagi kalau bukan demi membantu pemerintah membatasi pemberitaan tentang demonstrasi.

Ernest mengeluarkan tudingannya lewat Instastory di akun Instagramnya.

“twitter lagi down? Ulah Kominfo kah? Mencegah euforia mahasiswa?”

Tudingan tersebut langsung dibantah tegas oleh Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo, Ferdinandus Setu. Sekaligus menjawab semua tuduhan netizen se Indonesia.

Pembatasan akses internet kepada masyarakat tidak ada dalam rencana Kominfo.

Sedangkan operator pun sejalan dengan pernyataan Kominfo. Mereka tidak membatasi akses internet di Jakarta secara umum. Maupun kawasan Senayan pada khususnya.

“Belum ada instruksi dari Kominfo,” kata Denny Abidin, Wakil Presiden Komunikasi Korporat Telkomsel.

Lambatnya akses internet di lokasi demo murni karena adanya pelonjakan lalu lintas data (traffic) dan bukan dibatasi aksesnya oleh operator.

Pernyataan Telkomsel ini juga diamini operator lainnya seperti Indosat Ooredo dan XL Axiata.

Tampaknya warga Jakarta merasa takut pemerintah akan membatasi akses internet seperti yang dialami oleh penduduk di Wamena, Papua.

Akses internet di sana terpaksa dibatasi oleh pemerintah menyusul kerusuhan yang terjadi Senin (23/9). Pembatasan tersebut masih berlangsung hingga kondisi di Wamena kembali kondusif.

Pembatasan layanan data dilakukan oleh Kominfo agar informasi berbau hoaks tidak menyebar lewat internet. Terutama lewat jejaring sosial. Penyebaran berita palsu di saat begini dapat menyulut kerusuhan yang lebih besar lagi.

Jika menengok ke belakang. Jakarta pun pernah mengalami pembatasan ini walau hanya sebentar. Saat adanya kerusuhan pasca aksi menolak hasil pilpres pada bulan Mei yang lalu.