Inilah Sebabnya Kenapa Upacara Melasti Menggunakan Air Laut Dalam Rangkaian Upacaranya

348

Bagi umat Hindu di Bali, tahun baru Saka merupakan kesempatan baru mereka untuk memulai kembali kehidupan dengan hati yang suci. Dalam hari Raya Nyepi terdapat ritual amatigeni untuk berkesempatan mengevaluasi hasil pencapaian hidupnya selama satu tahun lalu dan menyusun rencana kehidupan satu tahun berikutnya.

Menjelang perayaan tersebut, pada dua sampai empat hari sebelum menjelang hari raya Nyepi,masyarakan umat Hinfu di Bali melakukan sebuah ritual pensucian diri yangdinamakan Upacara Melasti.

Upacara melasti ini merupakan upacara menghanyutkan kotoran dengan menggunakan air kehidupanseperti laut, sungai dan lain-lain. Menurut kepercayaan umat Hindu di Bali,sumber air yang digunakan untuk merayakan upacara melasti ini dianggap sebagaiair kehidupan.

Sumber air tersebut memberikan kehidupan bagi seluruh makhluk hidup di muka bumi, sehingga dengan ini upacara melasti selalu dilakukan di tempat-tempat khusus yang memiliki sumber kehidupan.

Dalam upcara melasti, masyarakat berbondong-bondong dengan membawa perangkat keramat peribadatan seperti arca, pratima, dan pralingga dari pura wilayah masing-masing untuk melakukan pensucian. Setiap anggota masyarakat yang mengikuti upacara ini juga menyiapkan sesajian sesuai kemampuannya masing-masing.

Pada upacara melasti, seluruh masyarakat yang merayakannya duduk bersila menghadap kearah jajaran perangkat ibadah dan sesajian yang tadi dibawakan sekaligus menghadap ke sumber kehidupan, yakni air seperti laut, sungai dan lain-lain. Kemudian setelah itu,pemuka agama setempat akan memimpin berjalannya upacara melasti tersebut.

Para pemuka agama nantinya akan berkeliling dan memercikkan air suci kepada seluruh masyarakat umat Hindu yang hadir dan tidak lupa memercikkan ke perangkat peribadatan dan sesajian. Selain itu, pemuka agama juga menebarkan asap dupasebagai wujud persucian tersebut.

Kemudian, dilakukan sebuah ritual persembahyangan oleh seluruh umat Hindu yang hadir. Para pemuka agama kemudian akan membagikan air suci dan biji beras yang sudah dibasahi air suci. Kemudian air suci tersebut diminum dan biji beras dibubuhkan ke dahi pada setiap umat Hindu yang hadir.

Setelah upacara melasti tersebut kemudian para umat yang hadir kembali membawa perangkat peribadahan untuk diarak kembali ke pura masing-masing untuk menjalani beberapa tahapan ritual lainnya.

Dan untuk menjaga ketertiban pelaksanaan upacara melasti tersebut, polisi adat biasanya mengatur pelaksanaan yang berbeda di setiap daerah untuk dapat melaksanakan upacara ini dengan khidmat.

Untuk itu, sepanjang hari kedua hingga hari keempat sebelum Nyepi, umat Hindu di Bali akan terlihat berbondong-bondong ke tepipantai untuk melaksanakan ritual dan upacara ini.

Jadi, mengapa upacara melasti selalu menggunakan air laut, danau dan sebagainya dalam rangkaian upacaranya, hal ini dikarenakan menurut kepercayaan umat Hindu, sumber air seperti laut, danau dan lain-lain dianggap sebagai air kehidupan.