ini Penyebab 320 Sandal Jamaah Haji Hilang di Masjid Nabawi

1552
masjid nabawi

Sandal adalah satu di antara aksesoris penting selama di tanah suci untuk menjaga kehalusan kulit kaki dan mencegah kaki berdarah-darah yang tidak terasa. Suhu panas yang terlalu ekstrem membuat kaki halus jamaah haji Indonesia rentan kering dan pecah-pecah, sehingga kulit-kulit kaki yang sobek (sudah semacam roti sobek lah) sering tidak dirasa oleh jamaah haji Indonesia.

Oleh sebab itu, kehilangan sandal menjadi tragedi yang perlu siaga satu bagi jamaah haji. Laporan ibadah haji tahun 2019 gelombang pertama menyebutkan sebanyak 320 sandal jamaah haji asal Indonesia hilang di area masjid Nabawi. Angka 320 bukanlah angka yang sedikit untuk menyebutnya sebagai ‘Tragedi Kehilangan’. Bisa jadi Yang sebenarnya terjadi adalah jamaah haji memang sengaja menghilangkan sandalnya, bukan kehilangan. Berikut alasan-alasan jamaah haji asli negara Indonesia yang sengaja menghilangkan sandalnya:

  • Bentuk shodaqoh sirri (sedekah sembunyi-sembunyi) jamaah haji selama di tanah suci

Keterangan menyebutkan bahwa masjid nabawi adalah masjid nabi Muhammad, sehingga para jamaah haji ingin meniru salah satu sifat beliau, yakni suka bersedekah. Latihan shodaqoh sirri mereka diawali dengan sandal, meskipun sandal bekas yang memang sudah mau putus. Mereka seakan-akan ingin merefleksikan anjuran “ketika bersedekah tangan kanan memberi dan tangan kiri tidak melihatnya”. Seakan-akan mereka sedang kehilangan sandal, padahal mereka sengaja menghilangkan sandalnya. Tapi kok ya sedekahnya berupa sandal, takutnya terbawa sampai ke Indonesia. Ketika kotak amal lewat, yang dimasukkan adalah sandal. Nggak mungkin muat lubang kotak amalnya!

  • Ingin membeli sandal baru

Ingin membeli sandal baru yang ada tulisan made in Saudi Arabia, tetapi takut dimarahi oleh Istri (maklum suami -suami takut istri). Di era milenial yang semua hal diukur dengan unggahan-unggahan di Media sosial, berfoto dengan menggunakan sandal asli buatan Madinah seperti menjadi syarat sah mengunggah foto di akun media sosial. Menghilangkan sandal adalah cara yang cukup ampuh untuk meluluhkan Istri agar memberikan izin pembelian sandal baru asli madinah. Istri yang benar-benar menyayangi suaminya lahir batin, tidak akan membiarkan suaminya menahan kesakitan selama beribadah haji sebab kaki yang tidak disandali sandal made in Saudi Arabia.

  • Memiliki stok sandal yang banyak dari Indonesia

Memiliki stok sandal yang banyak dari Indonesia, sehingga sayang kalau tidak dihabiskan di tanah suci. Membawa dengan susah payah dari Indonesia, ternyata seiring perjalanan waktu sandal masih tersisa banyak di koper. Akhirnya, mending dihilangkan di masjid Nabawi daripada harus dibawa pulang ke tanah air. Koper lebih baik diisi oleh-oleh khas Arab Saudi daripada membawa kembali barang-barang yang sama. Menurut Golongan ini, membawa barang-barang yang sama kembali ke Indonesia adalah wujud kemubadziran yang haqiqi.

  • Menguji pangkat ‘Kewalian’

Konon dipercaya bahwa ciri-ciri seseorang diangkat menjadi Wali oleh Pemilik Semesta adalah kaki yang kebal terhadap panas. Kalau di Indonesia biasanya dikenal dengan istilah Diobong Gak Gosong (Dibakar tidak Hangus) seperti nabi Ibrahim yang tidak hangus ketika dibakar oleh Raja Namrud. Golongan yang keempat ini ingin menjadi Wali setelah menunaikan ibadah haji, sehingga Ia sengaja menghilangkan sandalnya untuk trial kekebalan kakinya terhadap suhu panas tanah suci. Ia jauh-jauh dari tanah air menuju tanah suci agar menjadi Wali, padahal di tanah air juga bisa menjadi Wali. Pecinta Grup musik Wali Band disebut dengan istilah ‘Para Wali’. Untuk menjadi Wali tidak perlu berangkat haji, tinggal mendaftar sebagai penggemar Wali Band.

  • Ingin menyatu dengan Madinah melalui ritual Nyeker

Julukan “Kota Nabi” membuat sebagian jamaah haji sangat mencintai kota Madinah dengan cinta yang paling dalam, cinta sehidup semati. Mereka ingin manunggaling dengan kota Madinah, sehingga memutuskan untuk menghilangkan sandalnya. Sebab nyeker mengisyaratkan bentuk penyatuan diri dengan alam. Alam yang dimaksud jamaah haji adalah tanah suci Madinah. Seperti itulah bentuk pengorbanan cinta, sungguh berat. Seperti kata Cu Patkai, “Cinta oh cinta, Penderitaannya Tiada Akhir”.

  • Ingin dipanggil lagi ke tanah suci dengan cara meninggalkan benda di tanah suci

Bagi sebagian besar jamaah haji, kembali lagi ke tanah suci adalah hal yang paling dinanti. Berkali-kali pun menginjakkan kaki di tanah suci, hati selalu menanti dipanggil lagi. Sandal merupakan lambang perjalanan, karena menimbulkan jejak. Oleh sebab itu, barang yang sengaja dihilangkan adalah sandal. Semoga sandal yang sengaja ditinggal memanggil mereka lagi agar kembali ke tanah suci untuk mengambil sandal yang ditinggal itu.

Jadi pemerintah tidak perlu risau dengan tragedi kehilangan sandal di tanah suci, sebab sandal-sandal tersebut tidak benar-benar hilang.